Refleksi Kemerdekaan RI ke-80, Ken Setiawan: Kita Harus Kritis, Tapi Jangan Anarkis
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Ken mempertanyakan, jika para nabi itu kini sudah tiada, apakah diperlukan “Nabi Darurat” untuk mencerdaskan masyarakat, membuka mata, dan membantu mereka membaca realitas persoalan di sekitar?
Sebab menurutnya, saat ini banyak tokoh agama justru sibuk bertikai antar kelompok, saling mengklaim kebenaran, namun diam ketika berhadapan dengan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat atau kasus korupsi.
Ia juga menyoroti penyalahgunaan istilah kafir yang kerap disematkan kepada penganut agama lain sebagai pembenaran untuk membenci, bahkan membunuh.
Padahal, menurut Ken, kafir sejatinya adalah sebutan bagi penguasa zalim yang menutup-nutupi kebenaran demi kepentingan pribadi.
“Di momen kemerdekaan ini, mari kita bersatu dalam perbedaan, menguatkan kembali semangat persatuan, gotong royong, kebhinekaan, dan nilai-nilai luhur Pancasila. Berperanlah aktif di bidang masing-masing, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan,” ajaknya.
Ken menutup refleksinya dengan pesan bahwa peringatan kemerdekaan tidak boleh hanya bersifat seremonial.
Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat identitas bangsa, menanamkan sikap kritis, dan mengevaluasi berbagai kebijakan demi terwujudnya sila kelima Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)
Ken Setiawan
NII
terorisme
FKPT Lampung
BNPT
intoleransi
makna kemerdekaan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
