Cangkul dan Laptop: Alat Berbeda, Akarnya Sama
lampung@rilis.id
-
Oleh sebab itu perlunya kita yang berada di sistem dan memangku kebijakan menjadi support sistem rekan-rekan kita yang masih bertahan dan berani mengambil resiko turun ke sawah dan kebun.
Karena faktanya, nasi di piring kita tidak tumbuh dari laporan keuangan. Kopi yang kita seruput tiap pagi bukan hasil dari rapat evaluasi. Oksigen yang kita hirup mungkin bahkan numpang dari tanaman tetangga.
Kalau negeri ini hanya melahirkan pegawai tapi kekurangan petani, kita cuma akan jadi negara agraris di atas kertas.
Petani, PNS, pegawai swasta, politikus, atau pengusaha—yang penting jangan lupa akar kita “Pertanian Satu, Pertanian Jaya”.
Karena di ujung hari, kita semua masih butuh makan. (*)
Cangkul dan Laptop
Alat Berbeda
Akarnya Sama
Syanda Giantara
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
