Cangkul dan Laptop: Alat Berbeda, Akarnya Sama
lampung@rilis.id
-
Gaji pegawai BUMN Staf biasa bisa Rp 5-8 juta/bulan, bahkan level atas bisa puluhan juta.
Petani milenial umumnya Rp 2-3 juta/bulan, kalau inovatif, bisa Rp 8-15juta/bulan dari urban farming. Namun jumlahnya tidak banyak rata-rata masih bertumpu pada cara konvensional (Sumatera Ekspres, 2024).
Pilihan antara ladang atau kantor bukan sekadar masalah passion, tapi juga perhitungan realistis tentang penghidupan dan kestabilan ekonomi keluarga.
Setiap tahun, ribuan mahasiswa lulus dari fakultas pertanian. Tapi berapa yang benar-benar terjun ke sawah?
Banyak yang lebih memilih bekerja di perbankan, industri, bahkan bidang yang tidak ada hubungannya sama pertanian. Alasan mereka sederhana:
Pendapatan petani tidak pasti, tidak ada jaminan gaji tiap bulan. Pendapat umum yang selalu digoreng di pasaran bertani masih dianggap sebagai “pekerjaan kelas bawah.”
Orang tua lebih bangga lihat anaknya pakai kemeja rapi di kantor daripada pakai sepatu boots di sawah, dan mahasiswa melihat orang yang paling dekat dengan mereka para dosen yang memberikan ilmu bertahun-tahun sebagian besar bukanlah petani.
Persepsi umum tersebutlah yang membuat anak-anak pertanian lebih memilih masuk ke sistem—bukan karena tidak peduli pertanian, tapi karena merasa lebih bisa berkontribusi lewat jalur lain.
Di negeri agraris, pertanian tidak cuma butuh petani. Kita butuh yang nyangkul di sawah, tapi kita juga butuh yang nyangkul di kebijakan.
Yang satu buka lahan, yang satu buka spreadsheet.
Cangkul dan Laptop
Alat Berbeda
Akarnya Sama
Syanda Giantara
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
