Strategi Hilirisasi dan Industrialisasi Pertanian
Tampan Fernando
Bandarlampung
Inkubator bisnis selayaknya merupakan kerjasama antara perguruan tinggi, industri, organisasi profesi, pemerintah, dan pihak lain yang relevan. Semua pihak dapat berkontribusi dalam beragam bentuk, termasuk penyediaan instruktur, paket teknologi inovatif, fasilitas praktik bisnis dan magang, pembiayaan, pemasaran, dll.
Perguruan tinggi sangat tepat dan layak untuk mengambil inisiatif mengoordinasikan dan mengintegrasikan potensi sumberdaya yang ada pada berbagai pihak, untuk bekerjasama dalam konsorsium pengelola inkubator bisnis.
Sumber pembiayaan untuk mencetak entrepreneur sebetulnya sudah tersedia. Dari Dana Desa hendaknya dapat disisihkan sebagian (sedikit boleh juga) untuk mengirimkan setidaknya 1 orang putra-putri terpilih belajar di inkubator bisnis per tahun.
Seperti program lain, mungkin dapat dibuat program ‘one village one new entrepreneur” per tahun. Calon entrepreneur handal yang telah bersertifikat selanjutnya dapat didampingi dan difasilitasi untuk mengakses fasilitas kredit yang disiapkan lembaga pembiayaan.
Sepertinya tanpa jumlah SDM berkualifikasi entrepreneur yang cukup sangat sulit mendorong proses berkembangnya hilirisasi dan industrialisasi pertanian. Tabik Pun! (*)
hilirisasi
industrialisasi pertanian
Dr. Ir. Erwanto
M.S
jurusan peternakan
fakultas pertanian Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
