Strategi Hilirisasi dan Industrialisasi Pertanian
Tampan Fernando
Bandarlampung
Penulis secara khusus pernah mendiskusikan fenomena unik ini dengan Ketua Dewan Riset Nasional (DRN, sekarang BRIN). Diskusi mengungkap bahwa hilirisasi dan industrialisasi pertanian sejatinya adalah proses inovasi teknologi.
Secara sederhana, proses inovasi teknologi ditopang oleh 2 pilar penting, yaitu ‘invensi’ dan ‘komersialisasi’. Invensi atau reka cipta dapat diartikan sebagai temuan sesuatu ‘cara proses baru’ yang sebelumnya tidak ada.
Sedangkan komersialisasi adalah perbuatan menjadikan sesuatu tersebut sebagai barang dagangan. Dengan demikian proses inovasi dapat dirumuskan sebagai berikut: INOVASI = INVENSI x KOMERSIALISASI.
Dari rumus sederhana tersebut dapat dianalisis mengapa sampai saat ini proses hilirisasi dan industrialisasi pertanian kita terus tersendat-sendat, meskipun sudah banyak program dan stimulus yang disediakan.
Dari sisi invensi sebenarnya sudah cukup banyak tersedia paket-paket teknologi (baik dari temuan negeri sendiri maupun dari inventor asing) yang dapat diterapkan di dalam bisnis.
Namun, dari sisi komersialisasi masalah besar muncul di negeri ini. Sesuai dengan maknanya, komersialisasi menuntut ketersediaan SDM yang berkualifikasi entrepreneur, yaitu orang yang kreatif-inovatif dan mampu menciptakan atau mengubah bisnis dengan cara baru.
Selain memiliki naluri bisnis yang kuat, SDM berkualifikasi entrepreneur juga berani menanggung risiko besar. Di negeri kita jumlah SDM berkualifikasi entrepreneur sangat sedikit, hanya sekitar 1-2 orang dari 100 penduduk.
Berkaca dari negara maju, strategi inkubator bisnis mungkin dapat diadopsi untuk mencetak entrepreneur dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan pengembangan bisnis pertanian hulu-hilir.
Selain harus dilengkapi dengan instruktur yang kompeten dan modul pembelajaran yang relevan, inkubator bisnis juga harus dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang cukup untuk membekali tenant (calon entrepreneur).
Pada fasilitas inkubator bisnis tenant diberi kesempatan untuk melakukan praktik dari A sampai Z kegiatan real business (produksi-pemasaran) dalam beberapa siklus, sampai cukup kompeten sehingga layak memperoleh sertifikat.
hilirisasi
industrialisasi pertanian
Dr. Ir. Erwanto
M.S
jurusan peternakan
fakultas pertanian Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
