Secangkir Kopi, Secercah Harapan
lampung@rilis.id
-
Indonesia masih tertinggal jauh bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura dengan konsumsi kopi 4-5 kg per kapita. Atau, negara-negara di Eropa seperti Finlandia, Belanda, dan Norwegia konsumsi per kapitanya mencapai 9-12 kg.
Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan, konsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016-2021 tumbuh dengan rerata 8,22%/ tahun.
Berdasarkan data ICO, permintaan kopi lokal tahun 2014/2015 sebanyak 262.020 ton, tahun 2015/2016 (273.000 ton), tahun 2016/2017 (279.000 ton), tahun 2017/2018 (285.000 ton), tahun 2019/2020 (288.000 ton), serta tahun 2020/2021 (370.000 ton).
Yang memprihatinkan pada tahun 2023 ini terjadi penurunan produksi kopi dunia. Di mana produksi di Vietnam anjlok, ditambah gagalnya Brazil dalam memproduksi kopi karena terkena frost.
Kondisi kelangkaan kopi dunia dimulai dari tahun 2020 ketika Brazil mengalami kemarau panjang dan mengalami kekeringan hebat.
Kemudian tahun 2021 Brazil mengalami frost, yaitu hembusan angin beku yang membuat hampir 60% lahan kopi rusak yang menyebabkan tanaman kopi mengering dan mati.
Pada tahun 2022 petani di Brazil mulai melakukan replanting, dan diprediksi tahun 2026 Brazil sudah mulai pulih kembali karena tanaman yang di replanting telah berproduksi. Itu pun apabila iklim di negara Brazil mendukung untuk pertumbuhan kopi.
Kondisi kopi Vietnam pun mengalami penurunan. Cuaca yang tidak menentu di Vietnam, menyebabkan terjadinya penurunan produksi di negara penghasil kopi terbesar kedua di dunia.
Penurunan produksi kopi ini terjadi juga di Indonesia, secara nasional produksi kopi diperkirakan akan turun 50%-70%. Hal ini disebabkan karena pengaruh iklim, dimana pada tahun 2022 kemarin terjadi La Nina atau hujan sepanjang tahun.
Itu semua membuat bunga dan buah muda gugur, karena tanaman kopi memerlukan bulan kering 4-5 bulan untuk proses pembungaan menjadi buah.
Kopi Lampung
Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
