Petuah sang Dirut
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung
— Jumat pagi (11/2/2022) saya terlibat diskusi. Singkat. Namun berisi.
Peserta diskusinya hanya dua orang: saya dan teman diskusi saya. Diskusinya juga melalui pesan WhatsApp.
Yang kami bahas tentang pers. Terkait kondisinya. Juga apa yang harus dilakukan perusahaan pers. Agar bisa bertahan di era disrupsi digital saat ini.
Namun, pada diskusi itu, saya memilih lebih banyak mengamini. Terkait apa yang disampaikan teman diskusi saya itu.
Terhitung, hanya empat kali saya menimpali pendapat teman diskusi saya tersebut. Isinya pun hanya menyepakati apa yang disampaikannya.
Tentu ada alasan mengapa saya memilih bersikap seperti itu.
Itu karena memang saya ingin mendapatkan petuah darinya. Juga pandangannya. Terkait kondisi pers saat ini.
Pun strateginya. Tentang apa yang harus dilakukan jurnalis. Dan perusahaan pers. Dalam melawan gempuran digital saat ini.
Sehingga, dalam diskusi itu, sejujurnya saya ingin ”mencuri” ilmu darinya. Terlebih, tipe teman diskusi saya ini tergolong ”irit” bicara. Itu saya ketahui setelah beberapa kali terlibat percakapan melalui WhatsApp dengannya.
Namun Alhamdulillah. Pagi itu saya seperti ketiban berkah. Tak seperti biasanya, teman diskusi saya itu cukup panjang menyampaikan pemikirannya. Sehingga saya merasa, hari itu menjadi Jumat berkah bagi saya. Karena mendapatkan petuah darinya.
Petuah sang Dirut
Wirahadikusumah
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
