Pendidikan Seks Anak Usia Dini

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

8 April 2021 06:58 WIB
Perspektif | Rilis ID
Wardoyo, SKM., M.Kes., Widyaiswara Badan Kepegawaian dan Diklat Lampung Selatan
Rilis ID
Wardoyo, SKM., M.Kes., Widyaiswara Badan Kepegawaian dan Diklat Lampung Selatan

Dengan jujur, kita tidak menyesatkan anak dengan informasi yang tidak benar karena bisa melahirkan rasa tidak percaya anak pada orang tuanya. Faktanya banyak orang tua yang tidak besikap jujur ketika memberikan informasi seks pada anak, seperti menyebutkan organ seksual dengan istilah-istilah yang lain.

Belajarlah bersikap santai, wajar, dan biasa-biasa saja. Jangan membesar-besarkan masalah, karena menganggap seks merupakan topik yang berat. Usahakan menjaga intonasi suara ketika menjawab pertanyaan anak.

Tidak boleh bersikap heboh dan berlebih-lebihan. Kualitas kata atau kalimat sangat bergantung kepada cara pengucapannya. Kata yang sama namun diucapkap dengan intonasi yang berbeda akan memberikan dampak lain pada si penerima pesan.

Dalam hal seks, kita harus belajar untuk menghilangkan rasa risih dan takut ketika menjelaskannya pada anak. Jangan biarkan anak terkontaminasi pesan non verbal yang keliru hanya karena orang tua tidak mampu mengikis keresahannya setiap kali membiacarakan seks.

Sangat disarankan agar selaku orang tua kita lebih dulu melepaskan diri dari semua persepsi seks dewasa yang erotis dan mesum ketika menginformasikannya pada anak agar anak tidak menangkap pesan yang keliru.

Hindarkan kemarahan yang negatif dan menolak pertanyaan anak melalui hardikan dan umpatan kata-kata kasar. Ini sangat berpengaruh buruk pada anak. Hindari juga kebiasaan mengatakan pada anak bahwa seks itu dosa, kotor, dan tak pantas untuk dibicarakan.

Semua sikap negatif semacam ini akan menanamkan persepsi negatif tentang seks pada anak yang pada akhirnya akan memicu timbulnya pemahaman keliru tentang seks.

Kekerasan Seksual
Menyikapi kejadian kekerasan seksual serta kasus kekerasan seksual pada anak dan remaja maka sikap ayah-bunda adalah:

  1. Bekali anak dengan pemahaman pentingnya menjaga diri, bahwa dirinya amat sangat berharga, tidak sembarang orang dapat menyentuhnya.
  2. Tekankan pada anak agar berhati-hati terhadap sentuhan dari orang lain. Ajari perbedaan sentuhan:
    - Sentuhan baik: atas bahu dan bawah lutut.
    - Sentuhan membingungkan: bawah bahu sampai bawah lutut.
    - Sentuhan buruk: sentuhan pada bagian-bagian yang ditutupi pakaian dalam.
    Ajari anak bagaimana harus bersikap bila menerima sentuhan buruk dan membingungkan meski sentuhan itu dari orang laki-laki terdekatnya (paman, kakek, tetangga, bahkan ayahnya sendiri).
  3. Jangan bersikap berlebihan. Rasa marah atau frustasi dan tidak percaya seringkali membuat anak semakin terpuruk dan telah mengecewakan orang tua, kontrol emosi sehingga anak tidak menutup diri.
  4. Tanyakan dengan pertanyaan terbuka. Ketika anak bercerita, usahakan jangan bertanya yang terarah, pertanyaan terarah membuat anak jadi binggung. Ajukan pertanyaan seperti apa yang terjadi berikutnya?
  5. Jangan panik, tetap tenang jangan biarkan anak merasa bersalah dan menjadi takut.
  6. Semaksimal mungkin hindari anak-anak dari gadget (smartphone, tablet, ipad), tv, komputer. Lebih baik berikan mainan untuk kegiatan fisik misalnya bola, sepeda, dan atau buku-buku cerita/pengetahuan, buku aktivitas (ingat: buku adalah investasi berharga yang kita tanam untuk anak), dan atau mainan edukatif (puzzle, lego, balok, tangram, kartu-kartu yang mendidik dan lain-lain yang sudah banyak dijual di toko buku).
  7. Berikan ”underware rule”, aturan pada anak dalam berpakaian, di mana, kapan, dan pada siapa boleh membuka pakaian dalam. Jangan biasakan anak kita (usia balita) hanya memakai pakaian dalam saja saat di rumah, meski sedang bersama orang tua/anggota keluarga.
  8. Berikan aturan, sejak usia tujuh tahun sudah dipisah tidurnya antara laki-laki dan perempuan dan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Bila masuk kamar orang tua, harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
  9. Orang tua tidak membiasakan diri hanya memakai handuk saja saat keluar dari kamar mandi. Aturan ini juga harus dibiasakan pada anak-anak kita.
  10. Dengan musim pandemi Covid- 19 ini yang dianjurkan dari kesehatan baik untuk kita maupun anak-anak untuk patuh protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan, memakai hand sanitizer, jaga jarak, dan hindari kerumunan.

Pendidikan seks anak usia dini berusaha membina menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi pada usia dini secara optimal. Pendidikan ini akan membentuk prilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya.

Dengan pendidikan ini, anak usia dini akan lebih siap untuk memasuki tahap pendidikan selanjutnya. Pendidikan usia dini juga menbangun landasan bagi perkembangan anak, potensi kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional. Serta membentuk perilaku yang santun dan mempersiapkan anak untuk ke tahap selanjutnya. Juga meningkatkan kreativitas, pola pikir, dan daya tarik anak. (*)

Menampilkan halaman 3 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya