Menunggu Seruan 'Moral' Akademisi dan Guru Besar Universitas Lampung
lampung@rilis.id
-
Keprihatinan dan kerisauan para akademisi di berbagai kampus di Indonesia ini ternyata belum diikuti oleh para akademisi terutama para guru besar yang ada di Universitas Lampung (Unila).
Apakah ini menunjukan bahwa kondisi politik dan demokrasi yang terjadi saat ini, yang menjadi kerisauan dan keprihatinan para akademisi dan guru besar di berbagai kampus tidak dirasakan oleh para akademisi yang ada di Unila?
Kalau itu tidak dirasakan maka wajib kita pertanyakan jiwa moralitas dan rasa memiliki mereka terhadap bangsa ini. Sebab, perguruan tinggi adalah penjaga moralitas. Seperti yang dikatakan oleh Julien Benda bahwa tugas utama para cendekiawan adalah menjaga moral.
Ketidakhadiran para akademisi dan guru besar Unila dalam menyampaikan peryataan sikap keprihatinan dan kerisauan atas kondisi bangsa, di mana hilangnya etika bernegara dan berbangsa serta kemunduran demokrasi yang terjadi selama atau sebelum Pemilu ini banyak dipertanyakan oleh masyarakat Lampung di berbagai grup WhatsApp.
Mengingat Unila adalah salah satu perguruan tinggi terbesar di Sumatra dan perguruan tinggi terbesar di Provinsi Lampung yang menjadi rujukan perguruan tinggi di Lampung.
Sangat disayangkan kalau para akademisinya tidak memberikan pernyataan sikap atas kondisi politik dan demokrasi saat ini.
Hal itu bisa menjadi sejarah di mana Unila menjadi salah satu universitas yang tidak mempunyai kepedulian dan perhatian terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini.
Saya selaku akademisi Unila menyampaikan hal ini sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi di Unila yang hanya “diam” atas kondisi bangsa yang telah hilang “etika bernegara dan berbangsa” dalam penyelenggaran negara.
Kalau kita terus “diam” kita telah ikut dalam melakukan kerusakan moral dan etika bangsa ini. Dan kerusakan itu kita wariskan kepada anak cucu kita. (*)
Universitas Lampung
Unila
Pilpres 2024
Jokowi
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
