Literasi Digital Petani Optimalkan Program e-KPB untuk Petani Lampung Berjaya

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

5 Juli 2023 13:36 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Tri Umaryani, S.P., M.Si., mahasiswa Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Lampung. Foto: Ist
Rilis ID
Oleh: Tri Umaryani, S.P., M.Si., mahasiswa Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Lampung. Foto: Ist

RILISID, Bandarlampung — Sektor pertanian sampai dengan saat ini masih menjadi sektor unggulan di propinsi Lampung. Berdasarkan laporan perekonomian Provinsi Lampung tahun 2022 besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 414.131,42 miliar.

Ekonomi Provinsi Lampung tahun 2022 tumbuh sebesar 4,28 persen, menguat dibanding tahun 2021 yang tumbuh sebesar 2,77 persen. Sektor pertanian merupakan penyumbang utama dalam pembentukan PDRB Provinsi Lampung.

Porsi terbesar PDRB Lampung didominasi oleh tiga sektor Lapangan Usaha (LU) utama Provinsi Lampung yaitu LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; LU Industri Pengolahan; dan LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan porsi sebesar 27,90%, 18,55%, dan 13,20% .

Sebagai sektor unggulan, sektor pertanian masih menghadapi berbagai tantangan antara lain : alih fungsi lahan pertanian, rendahnya produktivitas, pemanfaatan lahan yang belum optimal, keterbatasan akses terhadap modal dan pasar, belum optimalnya kelembagaan petani, rendahnya adopsi teknologi, serta permasalahan ketersediaan pupuk yang sangat sulit diperoleh.

Selain itu, permasalahan lainnya terkait tata niaga yang belum efisien serta serbuan produk impor komoditas pangan dan hortikultura memberikan dampak terhadap produk petani lokal yang sering terpinggirkan karena tidak mampu bersaing dalam aspek harga dan kualitas produk.

Pertanian juga menghadapi persoalan perubahan iklim global yang menyebabkan pola tanam berubah, serangan organisme pengganggu yang menyebabkan gagal panen, hingga kekeringan dan banjir.

Rendahnya minat generasi muda untuk meneruskan dan memulai usaha pertanian menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.

Petani rakyat saat ini masih didominasi oleh petani dengan rata-rata berusia 55-60 tahun dan tidak memiliki pengetahuan dan pendidikan yang memadai. Sementara sumberdaya penunjang transfer teknologi (penyuluh pertanian) relatif masih belum memadai dibandingkan jumlah petani yang ada.

Akibat lebih lanjut menyebabkan pendampingan dan transfer teknologi tidak dapat berjalan secara efektif dan menyebabkan petani berjuang sendiri menghadapi segala masalah yang kompleks dengan keterbatasannya.

Berdasarkan data BPS Tahun 2022 Nilai Tukar Petani(NTP) lampung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya101,23 menjadi 104,30.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Segan Simanjuntak
Tag :

Literasi Digital Petani

Program e-KPB

Petani Lampung Berjaya

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya