Corona Bukan Virus Dengue

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

4 Maret 2020 05:58 WIB
Perspektif | Rilis ID
Handrawan Nadesul; Dokter, Penyair, dan Penulis 
Rilis ID
Handrawan Nadesul; Dokter, Penyair, dan Penulis 

Virus yang melekat pada benda atau peralatan di sekitar pengidap akan segera mati juga dalam hitungan jam. Virus bertahan lebih lama, mungkin 3-4 jam bila berada di lendir, liur, atau cairan, dan bukan di benda mati.

Lalu apa artinya ini? Hanya apabila jemari kita menyentuh semua barang yang berada di sekitar pengidap dan virusnya belum mati saja, dan kita menyentuh wajah, memasukkan jari ke hidung mengucek mata, maka kita baru akan tertular.

Lalu bagaimana orang-orang yang berada jauh dari pengidap virus? Barang tentu tidak mungkin tertular. Jangankan orang yang berada sekota, setetangga dengan pengidap corona saja pun atau ada yang positif mengidap virus corona, kecil kemungkinan tertular.

Kasus positif corona sudah pasti tidak berkeliaran, atau hanya mungkin berkeliaran kalau lolos dari deteksi, atau tidak mau berobat walau flu dan sesak napas. Tapi ini kecil kemungkinan. Jadi yang dalam tubuhnya membawa virus corona, adalah mereka yang mengidap tapi belum kelihatan sakit.

Kita tahu secara epidemiologis, di antara satu pengidap virus ada lebih 10 orang yang berpotensi tertular. Lalu dari yang sepuluh sudah tertular masing-masing menulari lagi 10 lainnya menjadi 100 yang tertular. Dan jahatnya virus corona karena daya tularnya yang tinggi dibanding sekerabat corona lainnya. Namun untungnya, angka kematian corona virus tetap hanya 2 persen saja dibanding SARS yang bisa 15 persen.

Jadi sesungguhnya terhadap corona lebih penting upaya pencegahan bagi masyarakat. Berjaga-jaga barangkali ada pengidap virus berkeliaran di tempat publik. Dan itu tidak banyak. Lebih penting tidak ke tempat publik kalau tidak perlu. Pakai masker hanya kalau ke tempat publik di wilayah yang sudah ada kasusnya.

Kalau dilaporkan sudah ada dua kasus positif di Depok, artinya wilayah itu yang kemungkinan sudah ada penularan ke sejumlah orang, seturut perhitungan epidemiologis, dibanding wilayah lain yang belum ada kasus.

Perlu ditelusuri pula, ke mana saja tamu Jepang penular dua kasus itu alibi jejaknya. Selain dua kasus ini juga sudah singgah ke mana dan berada di mana setelah bertemu tamu Jepang yang sakit itu.

Ditelusuri pula di RS Depok tempat dua kasus pernah berobat sudah bertemu dengan siapa saja, suster dan dokter siapa, berada di ruangan mana. Itu semua untuk melakukan surveilans supaya jejak-jejak pengidap bisa dibersihkan.

Ihwal memakai masker sendiri, sesungguhnya hanya bagi yang sedang demam, flu, batuk pilek saja yang perlu atau kita yang berada di dekat wilayah yang sudah ada kasusnya.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya