Corona Bukan Virus Dengue

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

4 Maret 2020 05:58 WIB
Perspektif | Rilis ID
Handrawan Nadesul; Dokter, Penyair, dan Penulis 
Rilis ID
Handrawan Nadesul; Dokter, Penyair, dan Penulis 

RILISID, — Sebagian masyarakat Indonesia panik merespons pengumuman ada WNI yang tertular virus corona. Aksi borong masker, hand sanitizer, sampai sembako pun dilakukan. Lalu, apa tanggapan dokter senior Handrawan Nadesul? Berikut tulisannya yang beredar luas di media sosial.
===

JENIS virus itu ratusan, bahkan ribuan. Masing-masing punya tabiat sendiri. Berbeda jenis lain pula cara penularannya. Beda pula pintu masuknya ke dalam tubuh.

Ada yang mengalami siklus kehidupannya di inang lain sebelum menularkan ke manusia, misal virus dengue pada DB.

Ada yang lewat pencernaan (virus polio), ada yang lewat udara (air borne) yakni virus polio dan cacar. Ada juga yang lewat hubungan seks (virus HIV).

Virus corona lewat percikan ludah (droplet infection). Artinya virus ke luar dari tubuh penderita (saluran napas) lewat percikan ludah sewaktu batuk bersin dan bercakap-cakap. Ini serupa dengan penularan basil TBC yang juga lewat cipratan liur dari mulut dan hidung penderita.

Jarak tular virus corona tentu berbeda dengan penularan virus yang beterbangan jauh di udara (air borne). Virus corona tak lebih dari dua meter mulut pengidapnya.

Jadi itu berarti kita baru tertular virus corona apabila berada sejauh dua meter dari pengidap corona. Itu pun kalau dia batuk, bersin, atau kita bercakap-cakap sejarak itu. Beberapa jam setelah ke luar dari mulut dan hidung pengidap, virus akan mati.

Mereka yang berada jauh dari pengidap corona, kendati pengidapnya batuk, bersin, virusnya tidak menjangkau mereka. Namun percikan ludah dan liur dari pengidap akan melekat di dekat pengidap batuk dan bersin, mungkin di lantai, di kursi tempat pengidap duduk, dan semua peralatan dan benda di sekitar pengidap. Itu alasan mengapa jemari kita selama berada di tempat publik sebaiknya tidak memegang wajah.

Mengapa wajah? Oleh karena hidung dan mata dan mulut berada di wajah. Bila jemari yang sudah tercemar virus corona yang kita tidak tahu entah dari mana tercemar di tempat publik, lalu menyentuh wajah, virus akan menjalar dengan mudah ke hidung, mata, atau mulut.

Termasuk di dalam kabin pesawat. Kita tidak tahu apakah dalam pesawat sedang ada pengidap virus corona. Dalam masa inkubasi atau masa tunas, pengidap virus belum memperlihatkan gejala, namun di saluran pernapasannya sudah ada virus corona yang setiap saat siap tersemprotkan lewat batuk dan bersin, atau bercakap-cakap.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya