Childfree, Kemerdekaan terhadap Perempuan
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — KEMAJUAN dunia modern di berbagai bidang melahirkan hal-hal baru bagi manusia. Ini memengaruhi berbagai aspek, seperti pola pikir, kebudayaan, nilai-nilai sosial, dan pendidikan.
Kemajuan tersebut juga memudahkan manusia mengakses berbagai hal di dunia, misalnya informasi, berita, dan pengetahuan.
Lalu, muncul berbagai pemikiran-pemikiran baru yang ikut memengaruhi hal-hal di sekitarnya. Satu dari banyak pemikiran paling kontroversial adalah childfree.
Apa itu childfree? Childfree merupakan sebuah pemikiran atau pilihan dari seseorang terutama perempuan untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun non-biologis (adopsi). Pemikiran ini sudah lama muncul di beberapa negara barat, ambil contoh Amerika Serikat.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Gretchen Livingston dan D’Vera Cohn, Pew Research Center berjudul Childlessness Up Among All Women; Down Among Women with Advanced Degrees (2010) disebutkan, pada tahun 2010, satu dari lima wanita di Amerika Serikat memilih mengakhiri masa suburnya tanpa melahirkan anak. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada tahun 1970, yaitu hanya satu dari sepuluh.
Saat ini, pemikiran mengenai childfree sedang ramai diperbincangkan dan sudah merambah ke berbagai negara di Asia, salah satunya Indonesia.
Bagaimana childfree di Indonesia? Indonesia memiliki berbagai macam budaya dan agama, hal tersebut yang memengaruhi cara berpikir dan berperilaku masyarakat.
Banyak sekali anggapan-anggapan mengenai pernikahan dan perempuan yang berkembang di Indonesia, salah satunya adalah menikah dan mempunyai anak.
Tentu budaya tersebut bertentangan dengan pemikiran childfree yang saat ini berkembang di antara anak-anak muda Indonesia.
Budaya di Indonesia memang seperti mengharuskan perempuan yang sudah menikah untuk memiliki anak. Ketika hal tersebut tidak atau belum terwujud maka dianggap tidak menjadi perempuan seutuhnya.
childfree
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
