Ken Setiawan: Islam dan Al-Qur’an Bukan Ajaran Baru, Tapi Rekonstruksi Ajaran Taurat dan Injil
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Karena itu, lanjutnya, tidak ada alasan untuk membenci umat agama lain atas nama agama.
Ia mencontohkan peristiwa ketika sekelompok pendeta dan jemaat Nasrani meminta izin beribadah di Masjid Nabawi. Nabi Muhammad justru mengizinkan mereka melakukan kebaktian di masjid tersebut.
Sikap toleran ini juga tercermin dalam Perjanjian Najran pada tahun 628 Masehi, yang menjamin keamanan, perlindungan, dan kebebasan beragama bagi kaum Nasrani Najran.
Nabi Muhammad bahkan berpesan agar jika ada umat Kristen membangun tempat ibadah, umat Islam diharapkan membantu, dan bantuan itu tidak boleh dijadikan hutang budi.
“Al-Qur’an pun mengakui keberadaan Taurat dan Injil sebagai kitab suci. Jadi, Islam adalah kelanjutan dari ajaran tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Kesamaan kisah dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an terjadi karena keterkaitan sejarah peradaban,” tegas Ken.
Baginya, toleransi bukan berarti melemahkan keyakinan Islam, tetapi justru memperkuat nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kasih sayang yang menjadi inti ajaran Islam.
Ketua API Lampung, Pdt. Daniel, mengatakan tujuan dialog ini adalah membangun pemahaman yang lebih baik antarumat beragama, memperkuat toleransi, dan menjaga keharmonisan sosial.
Ia mengapresiasi kehadiran Ken Setiawan yang dianggap mampu membuka ruang dialog baru dan mempererat silaturahmi lintas agama.
“Ini pengalaman yang menyejukkan dan memperkaya pemahaman tentang keberagaman. Kegiatan ini akan kita lanjutkan di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Lampung,” kata Daniel.
Ken Setiawan kini tidak hanya menjadi narasumber di lingkungan internal Islam, tetapi juga sering diundang dalam diskusi lintas agama seperti Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan.
Ken Setiawan
ajaran Islam
terorisme
roadshow Indonesia Damai
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
