Membedah Algoritma Puitis ‘Satu Ciuman, Dua Pelukan’ Karya Isbedy Stiawan

Gueade

Gueade

Bandar Lampung

24 Februari 2025 20:56 WIB
Budaya | Rilis ID
Bedah buku puisi karya Isbedy Stiawan ZS di TBL, Senin (24/2/2025). Foto: ist
Rilis ID
Bedah buku puisi karya Isbedy Stiawan ZS di TBL, Senin (24/2/2025). Foto: ist

RILISID, Bandar Lampung — Dua mata pisau analisis membedah kumpulan puisi Isbedy Stiawan ZS bertajuk 'Satu Pelukan' di Taman Budaya Lampung (TBL), Senin 24 Februari 2024 siang.

Heri Wardoyo, jurnalis, penulis, dan Ketua Satupena Lampung melalui makalahnya, 'Sungai yang Mengalir di Otak dan Taman dalam Ingatan: Algoritma Puitis Isbedy Stiawan', memulai dengan narasi, ada jejak emosi sekaligus sejumput "jiwa" dalam sekuntum puisi ini.

Dalam laboratorium tak kasatmata yang kita sebut "pikiran", triliunan sinapsis menyala seperti ledakan kunang-kunang di kegelapan, merajut pola dari kekacauan. Sebuah keteraturan dalam chaostic.

Isbedy Stiawan—dengan 55 bukunya yang telah diterbitkan selama ini, jelas empu yang mudah saja baginya menemukan formula mengubah letupan ide menjadi metafora yang nikmat, juga hikmat.

Menurut Heri yang juga dikenal politisi Lampung dan mantan Wakil Bupati Tulang Bawang itu, kreativitas seorang penyair sesungguhnya adalah tarian antara pikiran, vision, dan kontrol kognitif. Artinya, kata Heri, bagi penyair otak bekerja secara kreatif.

"Ketika penyair memandang sungai, otak seorang penyair tidak hanya merekamnya sebagai aliran air, melainkan memicu ‘badai asosiasi’: sungai menjadi garis waktu, luka yang mengalir, atau cinta yang tak pernah beku," ujar Heri Wardoyo yang lama bergelut dalam jurnalistik. 

Di sini, kata pengurus PWI Lampung ini, proses ini bekerja seperti penyuling, mengubah persepsi mentah menjadi simbol.

Ia menyebut beberapa penyair terkenal juga terilhami sungai sebagai metafora ekspresi. Misalnya, William Wordsworth yang menggambarkan sungai sebagai refleksi perasaan dan kehidupan yang tenang.

Lalu Robert Frost dalam puisinya "West-Running Brook" menggunakan sungai untuk simbol jalannya kehidupan dan perubahan yang terus terjadi.

Kemudian, Emily Dickinson, mendeskripsikan sungai sebagai jembatan antara kehidupan dan kematian.

Menampilkan halaman 1 dari 4
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

Isbedy Stiawan ZS

Puisi

Lampung

Bandar Lampung

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya