Bedah ‘Menungguku Tiba’, Dua Doktor Beda Pendekatan
Gueade
Bandar Lampung
Keempat tema itu, lanjutnya, adalah keterasingan (alienation), waktu dan penantian, krisis komunikasi, dan tema ketidakpastian makna.
Sementara itu, kata Ipit, pada tema estetika Isbedy tidak menggunakan bentuk dramatik seperti Esslin.
“Tetapi Isbedy menciptakan panggung bahasa yang memuat karakteristik serupa: fragmentasi narasi, repetisi tematik, dan simbol yang cair,” ungkap dia.
Sedangkan, Baban Banita menilai bahwa banyak yang menarik dari sajak-sajak Isbedy yang terkumpul pada antologi Menungguku Tiba Sehimpun Sajak 2022—2025.
Kata dia, bukan saja tema dan cara mengungkapkannya yang beragam. Namun sesuatu yang menjadi latar dari sajak-sajaknya yang kemudian menjadi cara memandang persoalan kehidupan. Baik dengan cara yang denotatif maupun konotatif yang menjadi semakin memperkaya keindahan sajak.
“Latar yang menarik itu adalah laut. Entah kebetulan atau disengajakan antologi sajak ini diawali oleh laut dan diakhiri oleh laut atau sesuatu yang mengandung laut,” ujarnya.
Dari laut atau dengan laut, lanjut Baban, Isbedy bisa mengungkapkan tentang rindu, kesendirian, hiruk-pikuk kehidupan, kesabaran, kematian, dan lain-lain. Laut begitu dekat dengannya.
Kegiatan yang dilaksanakan Pusat Budaya Sunda Unpad dan Prodi Sastra Indonesia FIB Unpad ini dimoderatori Dr. Irfan Hidayatullah, M.Hum.
Selain itu diisi dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi oleh Fitri Angraini, S.S., M.Pd.-- yang adalah istri Isbedy.
Lalu, Baban Banita dan Ipit Saefidier Dimyati yang berkolaborasi membawakan puisi Isbedy.
Menungguku Tiba
Isbedy Stiawan ZS
Unpad
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
