Uluan Nurghik, Gabungkan "Dunia-Akhirat" dengan Rumah Adat Ratusan Tahun

Joni Efriadi

Joni Efriadi

Tulangbawang Barat

6 Januari 2020 12:04 WIB
Budaya | Rilis ID
Kota Budaya Uluan Nurghik di Kelurahan Panaragan Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tulangbawang Barat. FOTO: ISTIMEWA
Rilis ID
Kota Budaya Uluan Nurghik di Kelurahan Panaragan Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tulangbawang Barat. FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Tulangbawang Barat — Penghujung tahun 2019 terasa dingin menembus kulit. Betapa beruntungnya menemukan sebuah persinggahan rumah adat di tengah-tengah Bumi Ragem Sai Mangi Wawai. Meski bangunan bernama ”Uluan Nurghik” tersebut dikelilingi perkebunan karet, namun keindahannya mempesona. 

Beragam bangunan di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) menjadi ikon kebanggaan masyarakat setempat. Seperti megahnya Masjid Baitusshobur 99 Cahaya Asmaul Husna dan Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai.

Nah, miniatur kedua bangunan yang berhimpun dalam kompleks Islamic Center --yang sering disebut Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad sebagai komplek dunia-akhirat, kini dikumpulkan di Uluan Nurghik (berita ini dapat juga dibaca di koran Rilis Lampung edisi Senin, 6/1/2020).

Kawasan itu disebut-sebut bakal menjadi kota budaya yang berlokasi di Kelurahan Panaragan Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tubaba. Sebuah destinasi wisata baru yang apik.

Tidak hanya itu. Ada juga Tugu Rato Nago berdiri kokoh di atas bebatuan membelah pertigaan ruas jalan utama Tubaba. Juga, bangunan patung wajah Megow Pak, tepatnya di tikungan tajam yang lebih dikenal dengan nama letter ”S” Panaragan. 

Meski tidak dianugerahi laut, pantai, dan gunung, daerah yang bermotto Nemen, Nedes, Neremo (Nenemo), itu di bawah kepemimpinan bupati Umar Ahmad dan wakilnya Fauzi Hasan,  Tubaba saat ini menjadi tujuan wisata .

Saat ditemui di Uluan Nurghik, Umar Ahmad menjelaskan beberapa rumah yang sudah dibuat di sini. Pertama, rumah adat suku Badui.

Rumah adat Badui dijaga kesederhanaannya. Terlihat dari kontur tanah yang masih miring dan tidak digali demi menjaga alam yang sudah memberi mereka kehidupan.

Bangunan dibentuk dengan batu kali sebagai dasar fondasi. Karena itulah tiang-tiang penyangga rumah tidak sama tingginya.

Kedua, rumah tenun tapis yang bersebelahan dengan rumah adat Badui. Tapis merupakan kain tradisional yang biasa digunakan dalam upacara-upacara adat atau ketika menghadiri acara-acara formal.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya