Temu Seni Performans Indonesia Bertutur: Mitos Sebagai Model Pengetahuan
Tampan Fernando
Bandarlampung
Demkian pula apa yang terjadi di Tubaba, kerja kebudayaan di Tubaba adalah mengambil mitos bukan pada formatnya, melainkan pada “keapaan” dari sebuah mitos.
Mitos secara singkat bisa dipahami sebagai cerita tentang sesuatu yang tidak bisa diceritakan secara langsung.
Narasi Umar, memang menjadi alasan bagi Afrizal Malna yang menyatakan bahwa pilihan Tubaba sebagai lokasi Temu Seni Indonesia Bertutur memang diawali dengan memperhatikan sejarah pertumbuhan wilayah Tubaba yang tidak memiliki apa-apa sebagai identitas pengikat.
Sejarah Lampung yang dipenuhi mitos, Tubaba menggali bahasa Lampung sebagai sumber arkeologi identitas. Kata-kata yang berasal dari cerita lisan: Uluan Nughiq, Las Sengoq, maupun Tiyuh, dijadikan pijakan untuk membuat mitos baru sebagai “identitas masa depan” Tubaba.
Temu Seni Performans di Tubaba memerlukan spektrum tema yang bisa jadi pijakan bersama. Bagaimana kita menggunakan mitos sebagai modus penciptaan dan mengapa?
Afrizal melanjutkan, bahwa Joseph Campbell melihat mitos sebagai model pengetahuan yang membentang dalam sejarah peradaban yang memiliki kesamaan, seperti mitos Dewi Kesuburan atau Dewa Kematian. Dan mempertanyakan apakah ada rahasia dalam pikiran kita.
Dalam Temu Seni Performans, mitos dilihat sebagai salah satu metode penciptaan, membuat jembatan baru antara data (dari sumber riset residensi), tubuh, ruang, dan imajinasi. Melalui fokus tentang Mitos, peserta diharapkan aktif melakukan pengembangan gagasan yang memanfaatkan warisan cagar budaya melalui residensi mandiri dan dalam laboratorium.
kawasan Budaya Ulluan Nughik
Tulangbawang Barat
Temu Seni Performans
Umar Ahmad
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
