Sambut Tahun Baru Islam, Warga Bagelen Tabuh Lesung sebagai Ungkapan Syukur
Darmansyah Kiki
Pesawaran
RILISID, Pesawaran — Tradisi malam peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1443 Hijriah hingga saat ini digelar masyarakat Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran dengan sederhana. Hal itu mengingat masih dalam kondisi pandemi covid-19.
Warga berkumpul di salah satu rumah warga dan duduk untuk menikmati makan bubur suroan sederhana, sambil diiringi doa meminta kesejahteraan kepada Sang Pencipta, dan semoga pandemi segera pergi.
Setelah itu warga yang terdiri dari beragam usia, laki-laki dan perempuan berkumpul untuk memukul lesung atau alat menumbuk padi zaman dahulu. Warga menyebutnya tradisi gojek suroan atau tradisi tabuh lesung.
Menurut salah satu tetua desa, Mbah Wowo (67), tradisi itu sudah berlangsung selama ratusan tahun di desa mereka sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas berkah dan rejeki yang melimpah.
Cara memainkannya sangat sederhana. Sekitar 5-6 warga hanya harus memukul seluruh bagian lesung, namun harus bersamaan sehingga menghasilkan nada seirama.
"Nama musiknya disebut jarang pingkal, wayangan, dan kutut manggung. Semoga tradisi ini bisa diteruskan generasi muda. Harapannya juga semoga pandemi segera hilang dan hidup seperti dulu lagi, biar tidak susah," harap Mbah Wowo kepada Rilisid Lampung, Senin (9/8/2021) malam kemarin.
Menurut Ketua RT III Sutikno, tradisi tabuh lesung kali ini berbeda dari tahun-tahuan sebelumnya.
"Biasanya seluruh warga desa berkumpul di balai desa, tapi tahun ini digelar sederhana bagi yang mau mengadakan saja, karena tidak boleh berkumpul banyak warga. Kamis juga doa semoga corona segera menghilang," pungkasnya. (*)
Tradisi
Tahun Baru Islam
Tabuh Lesung
Suroan
Pesawaran
Desa Bagelen
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
