Kerusakan Hutan Bakau Picu Malaria, PLN dan Komunitas Tanam Ribuan Bibit Lagi
lampung@rilis.id
Pesawaran
RILISID, Pesawaran — Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, telah dilakukan upaya-upaya pelestarian mangrove sejak tahun 2008.
Hutan Mangrove sangat penting keberadaannya sebab bukan hanya sebagai habitat binatang laut untuk berlindung, mencari makan dan berkembang biak, juga untuk melindungi pantai dari abrasi air laut.
Karena itulah, PLN Peduli menunjukkan keikutsertaannya dengan menggandeng Lampung Sweeping Community dan Komunitas Pelestari Mangrove.
Upayanya adalah turut menjaga ekosistem mangrove yang dibuktikan dengan melakukan penanaman 3500 bibit mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran pada sabtu (31/7/2021).
General Manager PLN UID Lampung, I Gede Agung Sindu Putra mengatakan bahwa begitu pentingnya fungsi hutan mangrove terhadap lingkungan kita.
Tujuannya adalah untuk mengembalikan keseimbangan alam pada ekosistem hutan mangrove di pesisir pantai Lampung.
Hal itu disampaikan Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum, Mimin Milasari saat melakukan penanaman 3500 bibit mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran, Sabtu (31/7).
"Ayo bersama-sama menjaga keseimbangan ekosistem hutan mangrove di sekitar kita, karena kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi," tambah Mimin dalam siaran pers yang diterima Rilisid Lampung, Minggu (1/8/2021).
Sementara, Toni Yunizar, Ketua Komunitas Pelestari Mangrove di Ekowisata Mangrove Petengoran mengatakan, sejarah awal dilakukannya konservasi mangrove di kawasan itu karena adanya endemis malaria pada tahun 2008 di sekitar kawasan tersebut.
Menurutnya, pada saat itu salah satu faktor yang menyebabkan endemis malaria, adalah rusaknya ekosistem mangrove yang memicu perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk malaria.
Bakau
Mangrove
Malaria
PLN
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
