Film Angken Muaghi, Gambaran Keberagaman Kota Metro Mulai Digarap
Adi Herlambang Saputra
Metro
“Konflik yang dibangun memang sering kita lihat di masyarakat. Lalu, tradisi Lampung hadir sebagai identitas lokal yang menawarkan jalan keluar,” terang Dede yang juga Ketua Komite Film Dewan Kesenian Lampung (DKL).
Walikota Metro Wahdi Siradjuddin mengapresiasi upaya pelestarian budaya Lampung lewat berbagai media, salah satunya via visualisasi film seperti Angken Muaghi.
“Bukan hanya budaya dalam perilaku, tetapi budaya dalam berbahasa, literasi dan itu baik sekali,” kata Wahdi.
Wahdi menambahkan, betapa leluhur masyarakat Lampung dahulu yang memiliki suatu formulasi dalam menghadapi masyarakat yang majemuk, yaitu tradisi Angken Muaghi.
"Tradisi Angken Muaghi merupakan nilai kearifan lokal yang dapat mengikis sikap etnosentris dan menjadi solusi dalam menghadapi dampak lain dari masyarakat majemuk, terutama pada perkotaan," pungkas Walikota.
Skenario film Angken Muaghi sendiri dikembangkan oleh Iin Zakaria dari ide cerita Arif Surakhman.
Melalui film bergenre fiksi drama, menampilkan lika liku pertemanan Ragah yang bersuku Lampung dengan Kevin dari etnis Tiongho hingga sampai di titik konflik.
Puncaknya, film Angken Muaghi ini menampilkan seni gitar tunggal, tradisi nanjar, beberapa masakan khas Lampung yang mulai jarang ditemui seperti Pisro dan Gulai Balak, hingga seni barongsai.
Dalam film tersebut, menggandeng Director of Photography (DOP) film layar lebar nasional Satya Ginong. Selain itu beberapa tokoh ikut terlibat seperti Wahdi Siradjuddin yang berperan sebagai Walikota Metro, Ketua DPRD Kota Metro Tondi MG Nasution sebagai Kanjeng Nizar, Muli Kota Metro 2021 Prisya Manda Ardana sebagai Senja, dan aktor Teater Satu binaan Iswadi Pratama, yaitu Gandi Maulana.
Film Kota Metro
Berita Metro
Dewan Kesenian Lampung
Angken Muaghi
Adat Lampung
Teater Satu
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
