VUB Padi Toleran dan Blast Tingkatkan Produksi di Lahan Rawa

Elvi R

Elvi R

Hulu Sungai Utara

23 Agustus 2018 19:15 WIB
Bisnis | Rilis ID
Rilis ID

RILISID, Hulu Sungai Utara — Potensi lahan rawa lebak di Indonesia harus terus didorong guna mendukung peningkatan produksi di lahan tersebut. Kendala utama di lahan rawa lebak adalah fluktuasi tinggi muka air yang sulit dikendalikan dan ancaman penyakit blast. Kedua masalah tersebut sangat dirisaukan oleh petani lahan rawa lebak, dan  terungkap saat kegiatan temu lapang dengan para kelompok tani, penyuluh, pegawai Dinas Pertanian, dan para peneliti Badan Litbang Pertanian di Desa Hambuku Raya, Kec. Sungai Pandan, Kab. Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel, Kamis (9/8/2018).

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi pada kesempatan tersebut menuturkan konsep mini polder dalam pengelolaan tata air di lahan rawa lebak terbukti meningkatkan indeks pertanaman (IP) lahan sawah di rawa lebak dari tanam sekali dalam setahun menjadi dua kali setahun. Dedi juga menuturkan lahan rawa lebak yang luasnya sekitar 25 juta hektar sangat berpotensi ditingkatkan potensinya.

Untuk menjawab masalah di atas Peneliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Indrastuti A. Rumanti, mengungkapkan varietas unggul padi yang toleran terhadap genangan serta toleran terhadap penyakit blast dapat menjadi salah satu komponen teknologi penting dan murah untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa. 

Indras menjelaskan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah memiliki beberapa varietas unggul baru yang adaptif terhadap genangan, antara lain Inpari 29 Rendaman, Inpari 30 Ciherang Sub1, Inpara 3, Inpara 4 dan Inpara 8 Agritan. 
Inpara 3 dan Inpara 4 dapat diperkenalkan pada petani lahan lebak yang membutuhkan umur dalam, kedua varietas ini memiliki umur sekitar 127 dan 135 hari setelah semai (HSS). Sedangkan Inpari 29 rendaman, Inpari 30 Ciherang Sub1 dan Inpara 8 Agritan memiliki umur yang lebih pendek yakni dapat dipanen pada umur 110 – 120 HSS.

Varietas-varietas tersebut toleran terhadap rendaman selama 6 hingga 14 hari pada fase vegetatif, selain itu dapat bertahan hidup dalam kondisi tenggelam hingga 14 hari berturut-turut. 

Inpara 3 dan Inpara 8 Agritan memiliki sifat istimewa, yakni mampu memanjangkan tinggi tanamannya mengikuti tinggi muka air, sehingga dapat bertahan pada kondisi genangan (stagnant flooding) 60 sampai 80 sentimeter hingga fase generatif. 
Dari potensi hasil, Inpari 29, Inpari 30, Inpara 3, Inpara 4 dan Inpara 8 memiliki produktifitas masing-masing 9,5 ton per hektare, 9,6 ton per hektare, 5,6 ton per hektare, 7,6  ton hektare dan 6 ton per hektare.  Inpara 8 Agritan dapat ditingkatkan potensi hasilnya jika dibudidayakan dengan baik. Yuri, petani di Cilacap melaporkan memperoleh 455 kilogram per 500 meter persegi atau hampir mencapai 10 ton per hektare di lahan lebakan. 

“Inpari 8 itu bagus, tahan rendaman, toleran pada tanah dengan pH rendah. Produksinya juga tinggi, karena pengisian bulirnya juga bagus. Bisa tumbuh baik di lahan rawa maupun di lahan tadah hujan,” ujar Yuri, petani asal Cilacap.

Yuri berharap Inpara 8 tinggi tanamannya dapat lebih pendek, rasa nasi pulen, batangnya kuat dan anakannya banyak.

Untuk mengatasi penyakit blast, Inpari 22, Inpari 42 Agritan, Inpari 43 Agritan, dan Inpara 8 dapat diperkenalkan untuk dibudidayakan oleh petani lahan rawa.

Varietas-varietas di atas akan diperkenalkan melalui demontration plot (demplot) yang bertujuan untuk mengetahui preferensi petani, pedagang benih/beras dan pengusaha penggilingan. Demplot juga berfungsi sebagai upaya seleksi  variteas atau Plant Varietal Selection. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya