Terdampak Pelemahan Rupiah, Pengrajin Tempe Kurangi Ukuran Produknya

Elvi R

Elvi R

Batang

8 September 2018 09:30 WIB
Bisnis | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILISID, Batang — Para pengrajin tempe dan tahu di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kini lebih memilih mengurangi ukuran produknya menyusul dengan menguatnya Dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah.

Pengrajin tahu Riyo Haryanti di Batang, Jumat, mengatakan bahwa pengrajin tahu maupun tempe yang masih mengandalkan bahan baku impor berupa kedelai harus punya cara agar produk yang dijual tetap laku yaitu dengan tidak menaikan harga tahu maupun tempe.

"Oleh karena, kami terpaksa mengurangi ukuran tahu tetapi dengan harga tidak dinaikkan. Cara ini kami lakukan agar kami tidak merugi tetapi masyarakat tetap membeli tahu" katanya, Jumat (7/9/2018).

Menurut dia, sebelumnya harga kedelai hanya mencapai sekitar Rp7.200 per kilogram tetapi kini naik menjadi Rp7.500 hingga Rp7.600 per kilogram setelah menguatnya Dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah.

"Naiknya harga kedelai ini memang cukup berpengaruh terhadap pelaku usaha UMKM maupun tahu dan tempe yang masih mengandalkan bahan baku impor. Bahkan dengan kondisi sekarang ini, keuntungan yang kami raih turun sekitar 30 persen," katanya.

Pengrajin tempe Faiki mengatakan besarnya biaya produksi tahu dan tempe dengan tidak diimbangi untuk menaikan harga jual maka bukan tidak mungkin lagi para perajin makanan khas indonesia itu terancam gulung tikar jika Dolar AS terus menguat tidak terkendali.

Menguatnya Dolar AS terhadap nilai tukar Rupiah, kata dia, tidak hanya berpengaruh terhadap para pengrajin tahu dan tempe tetapi juga pada pedagang kedelai.

"Saat ini pengrajin tempe maupun tahu memang mengurangi pembelian kedelai sehingga hal itu berdampak terhadap lesunya penjualan kedelai yang dijual oleh pedagang kedelai," katanya.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Batang Nasikhin mengatakan pemkab akan mendata sejumlah sektor usaha pengolahan dan industri yang masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri terkait dengan menguatnya Dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah.

"Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan fenomena nasional dan terkait dengan kondisi perekonomian global sehingga berdampak pada pelaku usaha yang masih mengandalkan bahan baku impor," katanya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya