Tanaman Porang Pendulang Rupiah yang Menjanjikan

Elvi R

Elvi R

Jakarta

22 November 2019 18:30 WIB
Bisnis | Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Iles-iles atau porang atau bahasa latinnya Amorphophallus oncophyllus akhir-akhir ini namanya menjadi tren sejak dikembangkan dan di ekspor ke mancanegara. Baru-baru ini Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah melepas ekspor sebanyak 60 ton atau setara Rp1,2 milyar ke negeri Cina. Peminat jenis tanaman ini bukan hanya Cina tapi diminati juga oleh sembilan negara lainnya, antara lain Jepang Vietnam, Thailand, Hongkong, Malaysia, Korea Selatan, New Zealand, Italia dan Pakistan.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pangsa pasar tanaman ini di dunia terus mengalami peningkatan.

"Dan berharap para petani dan eksportir muda untuk memanfaatkan peluang ekspor porang ini”, ujar Syahrul saat melepas ekspor Porang, baru-baru ini.

Sejak awal Januari hingga pertengahan November 2019 jumlah ekspor porang dari Provinsi Jawa Tengah total sebanyak 509 ton. Lalu apa sebetulnya yang menarik dari tanaman porang ini, sehingga banyak investor yang memburu jenis tanaman ini.  

Tanaman porang, seperti halnya dengan tanaman umbi-umbian lainnya mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin dan serat. 

Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomanan, serat kasar dan gula reduksi. Kandungan glukomanan yang relatif tinggi merupakan ciri spesifik dari umbi porang. 

Glukomanan dapat dimanfaatkan pada berbagai industri pangan antara lain untuk produk makanan seperti konnyaku, shirataki (berbentuk mie), sebagai bahan campuran/tambahan pada berbagai produk kue, roti, es krim, permen, jeli, selai, dan bahan pengental pada produk sirup serta sari buah.

Selain itu, Glukomanan juga dimanfaatkan oleh industri kimia dan farmasi antara lain sebagai bahan pengisi dan pengikat tablet, bahan pelapis (coating dan edible film), bahan perekat (lem, cat tembok), pelapis kedap air, penguat tenunan dalam industri tekstil, media pertumbuhan mikrobia, dan bahan pembuatan kertas yang memiliki sifat tipis, lemas, serta tahan air.

Pada setiap warna umbi berbeda kandungan glukomanannya, untuk Porang dengan umbi warna kuning (A. oncophyllus) mengandung glukomanan sekitar 55 persen dalam basis kering. Sementara porang dengan umbi warna putih (A. variabilis) sedikit di bawahnya, yakni 44 persen. Kadar glukomanan dalam ubi sangat ditentukan umur tanaman pada saat panen. Apabila tanaman dipanen pada satu periode tumbuh, kadar glukomanan dalam ubi berkisar antara 35-39 persen. Kadar tersebut terus meningkat sejalan dengan umur panen yaitu 46-48 persen, dan 47-55 persen masing-masing pada dua dan tiga periode tumbuh. Namun dimulai saat tanaman mulai berbunga hingga biji mulai masak, kadar glukomanan menurun hingga 32-35 persen. Oleh karena itu panen ubi sebaiknya dilakukan sebelum tanaman mulai berbunga.

Untuk persyaratan tumbuh, tanaman porang mempunyai sifat khusus yaitu toleran terhadap naungan antara 40-60 persen, oleh karena itu sangat baik ditumpangsarikan dengan tanaman tahunan (pepohonan). 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya