Sultra Targetkan jadi Lumbung Beras di Indonesia Timur
Elvi R
Jakarta
RILISID, Jakarta — Produksi pangan khususnya beras (padi) provinsi Sulawesi Tenggara, terus meningkat signifikan setiap tahunnya sejak dilaksanakannya program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Pajale (Upsus Pajale) pada 2015. Demikian diungkapkan oleh Pj. Upsus Pajale Provinsi Sultra Dr. Priatna Sasmita saat Rakor Upsus Pajale Kamis (5/9/20) bertempat di Plaza Hotel Kendari. Rakor ini dihadiri oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra, Korem 143 Ho, Kepala BPS, Kepala BMKG, Kepala BPN, Kepala BPTP Sultra, Kepala Balai Karantina Sultra, Penanggung Jawab Upsus dan LO Kabupaten, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten dan Kota se provinsi Sultra, para Kepala Pertanian Kecamatan, dan para petugas data.
Rakor ini digelar sebagai upaya percepatan realisasi luas tambah tanam Pajale periode Oktober-September 2018/19, dan penetapan target tanam Oktober-September 2019/2020. Sasmita menjelaskan bahwa upaya kenaikan luas tambah tanam dibarengi dengan kenaikan provitas sangat penting dalam upaya mempertahankan Sultra sebagai provinsi surplus beras sekaligus berkontribusi dalam menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan yang diwakili Kabid Tanaman Pangan, Ir. Suryati Raeba MP, mengklaim bahwa realisasi luas tanam padi di Sultra terus meningkat sejak dilaksanakannya program Upsus Pajale di Sultra.
“Pada periode Oktober - September 2015/16 dilaporkan capaian luas tanam padi seluas 177.179 ha, dan pada periode yang sama 2017/2018 mencapai 189.909 hektare, dan pada 2018/2019 diprediksi dapat merealisasikan luas tambah tanam padi seluas 192.317 hektare. Dengan capaian luas tanam tersebut Sultra dipastikan surplus beras yang setiap tahunnya lebih dari 100 ribu ton”, urainya.
Dr. Ir. Priatna Sasmita, MS juga menjelaskan, pengamanan produksi padi provinsi Sultra perlu terus digiatkan antara lain melalui percepatan tanam agar IP, Indek Pertanaman meningkat, optimalisasi lahan, cetak lahan baru, penerapan teknologi budidaya, panen dan pasca panen serta pemanfaatan alsin dalam upaya percepatan, efisiensi dan perbaikan kualitas hasil.
“Upaya ini terus dilakukan oleh Kementerian Pertanian bersama Pemerintahan Daerah dengan berbagai program termasuk bantuan sarana dan prasarana”, lanjutnya.
Pada kesempatan yang sama juga ditekankan pentingnya menumbuhkan kemandirian penyediaan benih di tingkat petani, dengan memberikan pendampingan dan pembelajaran secara langsung kepada petani mengenai teknologi produksi benih secara sederhana, sehingga mereka bisa mendapatkan benih dari pertanaman mereka secara berkelanjutan.
“Yang perlu difasilitasi adalah bagaimana petani dapat mengakses benih sumber baru setelah menanam 2 – 3 kali varietas yang sama. Dengan demikian petani dapat mandiri dalam penyediaan benih, sehingga tidak tergantung lagi dari bantuan pemerintah”, tambahnya.
Pada Rakor ini, Komandan Korem 143 Ho yang diwakili oleh Kaster Letkol Inf. Edward menyampaikan pentingnya menjaga stabilitas pangan, dengan mengutif pernyataan Sukarno Presiden RI pertama bahwa “Pangan Merupakan Hidup dan Matinya suatu Bangsa”.
"Oleh karena itu menjaga kedaulatan pangan sama dengan menjaga kedaulatan bangsa. Peran TNI dalam mendukung UPSUS di laksanakan melalui pencetakan areal sawah baru, monitoring luas tambah tanam (LTT) maupun pelaksanaan program SERGAB (Serap Gabah Petani)" katanya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
