Produksi Kedelai Berbiji Besar Diharap Jadi Solusi
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Produksi kedelai nasional saat ini masih jauh dari kebutuhan konsumsi nasional sebanyak 2,32 juta, di mana produksi saat ini baru mencapai 1 juta ton. Artinya, masih diperlukan 1,37 juta ton produksi kedelai untuk memenuhi kebutuhan, menurut Pusat Data Informasi Pertanian (Pusdatin) 2015.
Sementara itu, kedelai impor umumnya berbiji besar (>15 gram/100 biji), sangat disukai oleh pengrajin tempe dan tahu. Sampai saat ini varietas unggul kedelai berbiji besar yang sudah dilepas masih terbatas jumlahnya.
Menurut Dr Asadi, semenjak 2013 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik (BB Biogen) telah melakukan program perbaikan varietas kedelai untuk umur genjah-sedang, biji besar dan produktivitas tinggi, telah membuahkan hasil tiga galur harapan kedelai berbiji besar, yaitu galur Biosoy-8, Biosoy-10 dan Biosoy-11.
Ketiga galur kedelai ini, adalah hasil iradiasi sinar gamma dari galur generasi lanjut persilangan kedelai introduksi dari Cina dengan kedelai introduksi dari Jepang.
Iradiasi sinar gamma bertujuan untuk meningkatkan keragaman tanaman akibat terpecahnya rantai kimia pada molekul DNA, dilesi ikatan nukleutida atau subsitusi ikatan nukleotida. Pada 2016 dilaksanakan uji adaptasi (UML) di 8 lokasi, dan diperoleh tiga galur terbaik yaitu Biosoy 8, Biosoy 10 dan Biosoy 11.
Ketiga galur ini bijinya besar (sekitar 22 gram/100 biji), di antaranya ada yang memiliki potensi hasil 3,7 ton/hektare, dengan hasil rata-rata 2,62-2,71 ton/hektare, yakni 15-19 persen lebih tinggi dari varietas Grobogan, atau 14-18 persen lebih tinggi dari Anjasmoro.
Ketiga galur harapan tersebut, sekarang dalam proses usulan untuk dilepas menjadi varietas unggul kedelai berbiji besar, yang diberi nama Desar (kedelai biji besar) 1, Desar 2 dan Desar 3 Agritan. Semoga, ketiga galur harapan tersebut dapat lolos, sehingga dapat ikut mendukung program swasembada kedelai.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
