Neraca Perdagangan Defisit 3 Bulan Berturut-turut, CORE: Ini Serius
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kinerja perdagangan Tanah Air tampaknya tak menunjukkan sinyal pergerakkan yang baik untuk tahun ini. Kondisi ini tercermin dari data neraca perdagangan Indonesia, di mana tiga bulan berturut-turut masih mencatatkan defisit.
Setelah menikmati surplus sejak 2015, rupanya 2018 bisa menjadi titik balik kinerja positif neraca perdagangan Tanah Air. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan Februari 2018 sebesar US$120 juta. Dengan begitu, total defisit sejak Desember 2017 hingga Februari 2018 telah menginjak level US$1,1 miliar.
"Defisit perdagangan selama tiga bulan berturut-turut ini, merupakan yang pertama kali terjadi sejak 2014," kata Direktur Eksekutif Center of reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta, Jumat (16/3/2018).
Untuk itu, Core Indonesia memandang kondisi tersebut patut mendapat perhatian serius oleh pemerintah. Pertama, net ekspor yang tumbuh 21 persen, sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi 2017, berpotensi memberikan kontribus negatif pada perekonomian triwulan I-2018.
"Artinya, upaya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun ini akan semakin sukar," jelas Faisal.
Kedua, defisit perdagangan akan semakin memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit, di mana itu menjadi salah satu faktor pendorong pelemahan nilai tukar rupiah. Meskipun, faktor eksternal terkait rencana kenaikan suku bunga acuan AS atau The Federal Reserve (The Fed) lebih mendominasi.
Ketiga, belum adanya peningkatan kinerja industri manufaktur, khususnya yang berorientasi ekspor. Di sisi lain, Tanah Air masih sangat bergantung pada ekspor komoditas.
Sebagai perbandingan, kontribusi ekspor manufaktur Indonesia terhadap total ekspor negara hanya 47 persen. Sedangkan kontribusi ekspor manufaktur di negara seperti Vietnam dan Thailand sudah mencapai 78 persen.
"Ekspor manufaktur di negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam bisa lebih kuat, sehingga mampu meredam defisit neraca perdagangan mereka. Apalagi saat ekspor komoditas andalan seperti kelapa sawit cenderung melemah, dan harga minyak terkerek naik," ungkapnya.
Ke depan, Core Indonesia menilai potensi untuk kembali surplus tetap ada. Meskipun begitu, struktur neraca perdagangan masih dianggap sangat rentan untuk kembali mengalami defisit.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
