Bank Indonesia Gunakan Teknologi Silase  BPTP Sulut

Elvi R

Elvi R

Bolmut

11 April 2019 11:29 WIB
Bisnis | Rilis ID
Teknologi Silase, di Bolmut. FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
Teknologi Silase, di Bolmut. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Bolmut — Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara dan Dinas Pertanian Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), tertarik menggunakan teknologi Silase Balitbangtan untuk program penguatan Kluster Integrasi Padi-Sapi. Dalam bimbingan teknis yang berlangsung pada Jumat (5/4/2019) di Bolmut, dilibatkan 60 orang petani cluster dari 3 kelompok tani, masing-masing: Kecamatan Sangkup, Kecamatan Bintauna dan Kecamatan Kaidipang.

BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara yang diwakili oleh Paulus C. Paat menjelaskan tentang potensi pakan dari limbah jerami padi, rumput raja dan jerami jagung. Jika sebelumnya jerami hanya terbengkalai setelah panen, kini dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai pakan ternak.

Dalam kalkulasi Paat, setiap panen padi 1 hektare dapat menghasilkan sekitar 5 ton bahan kering pakan jerami, yang dapat menghidupi 2-3 ekor sapi. Bila asumsi Indeks Pertanaman (IP) 200, artinya 2 kali panen dalam setahun, maka dapat memasok pakan untuk 4-6 ekor sapi dewasa.

“Ini berarti bahwa petani sesungguhnya tidak hanya panen padi, tapi juga pakan ternak.” Imbuh Paat. “Jika pembakar jerami dilanjutkan maka sesungguhnya sekitar 5 ton pakan per 1 ha hanya jadi abu. Dan petani berkontribusi besar pada pengrusakan ozon," lanjutnya.

Teknologi Silase, adalah inovasi pengawetan hijauan pakan dalam bentuk tetap segar dan dapat bertahan lama sampai lebih setahun pada kondisi an-aerob. Teknologi ini berbasis fermentasi bakteri an-aerob. Teknik ini, mampu mempertahankan mutu pakan sebagaimana level mutu saat panen.

Kepada para petani, Paat menjelaskan bahwa puncak nilai nutrisi rumput gajah adalah umur 45 hari setelah panen. Dengan teknologi Silase, maka level mutu tersebut dapat dipertahankan terus, sehingga ternak akan mendapatkan pakan Silase pada level mutu yang stabil dan tetap segar dalam Silo (wadah pencampur).

“Teknologi ini di desain, untuk solusi masalah jumlah pakan yang sangat melimpah, pada waktu musim panen atau musim hujan dan sebaliknya dalam jumlah yang sangat kurang pada musim tanam atau kering," sambungnya.

Peneliti yang telah menghasilkan buku “Limbah Pertanian untuk Pakan dan Nutrisi Sapi” ini menjelaskan bahwa walaupun teknologi silase termasuk inovasi yang sudah sangat lama ditemukan, akan tetapi masih tetap relevan diterapkan secara praktis dan mudah. Baik peternakan skala kecil, maupun skala industri. 

Saat praktek, Paat menguraikan teknik pembuatan silase dengan wadah silo plastik. Cara pembuatan silase yaitu, pertama hijauan atau rumput dilayukan, dipotong-potong (5-10) sentimeter. Selanjutnya, diberikan tambahan karbohidrat sebagai substrat bakteri, contohnya tetes/molases, tepung jagung, dedak halus, onggok atau ampas singkong, dengan takaran kurang lebih tiga persen dari bahan silase yang akan dibuat. 

Semua bahan dicampur rata, kemudian dimasukkan kedalam silo, atau wadah tempat penyimpanan. Bahan-bahan tersebut, dipadatkan lalu ditutup rapat. Panen Silase dilakukan setelah 3 minggu. Silo dapat dibuka dan siap diberikan kepada ternak. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya