Meski Lesu, Omzet Cincau Hitam Sebulan Masih Rp20 Juta
Anonymous
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Cincau hitam menjadi salah satu pelengkap menu berbuka yang diburu saat Ramadan. Selain teksturnya yang kenyal, gel serupa agar-agar ini punya segudang manfaat yang baik untuk tubuh.
Jika dilihat sekilas ruangan samping di rumah di Jalan Abimanyu RT 1, Jagabaya I, Wayhalim, tampak biasa. Namun jika didekati, aroma daun yang tengah direbus di air mendidih menyeruak hingga radius lima meter.
Di dalam ruangan tersebut terlihat beberapa drum ukuran besar tersusun di atas bara api yang menyala. Loyang-loyang berbentuk persegi panjang berisi cairan hitam yang mengeluarkan asap putih mengepul tak jauh dari pintu masuk.
Zulkifli (50), pengrajin cincau hitam ini mengaku bisnis yang dilakoninya merupakan warisan dari kedua orang tuanya.
"Sudah ada sejak tahun 80-an. Setiap hari memang saya produksi cincau hitam, tapi nggak banyak. Bulan Ramadan agak dilebihkan karena memang dicari," kata Zulkifli kepada rilislampung.id, Jumat (1/5/2018).
Dia mengungkapkan, khusus untuk bulan Ramadan ini ia telah menyiapkan dua ton daun cincau hitam yang dibelinya dari Pulau Jawa.
"Daun ini cuma ada di Pulau Jawa, harganya Rp35 ribu per kilogram. Sehari kita bisa membuat 50 loyang cincau hitam. Kita nggak pasarkan, tapi orang yang ambil ke sini. Harganya Rp80 ribu per loyang," jelasnya.
Zulkifli menuturkan, untuk membuat cincau hitam ini membutuhkan waktu hingga dua hari.
"Pertama kita rebus dulu daun cincaunya selama lima jam. Biasanya kita rebus hari ini, besok baru kita buat. Setelah direbus, kita peras dan saring. Air perasan kita rebus lagi dengan campuran tepung tapioka sampai 2,5 jam,” bebernya.
Lalu, campuran tadi dimasukkan ke dalam cetakan loyang dan didiamkan selama tiga jam sampai cincau hitam dingin dan beku.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
