Mengenang Perjuangan KH M. Arief Mahya, Dari Guru Agama Hingga Tokoh Penting Nahdlatul Ulama

Tampan Fernando

Tampan Fernando

Bandar Lampung

15 Mei 2024 15:51 WIB
Historia | Rilis ID
Tokoh pejuang dan Kyai NU KH M. Arief Mahya. Foto : Ist
Rilis ID
Tokoh pejuang dan Kyai NU KH M. Arief Mahya. Foto : Ist

RILISID, Bandar Lampung — Tokoh pejuang dan Kyai NU KH M. Arief Mahya meninggal dunia pada Rabu (15/5/2024) pukul 14.36 WIB. KH M. Arief Mahya merupakan pejuang yang merasakan pahitnya penjajahan di masa Belanda dan Jepang.

Berikut rangkuman perjuangan KH M. Arief Mahya semasa hidupnya. KH M. Arief Mahya lahir pada 6 Juni 1926 di Lampung Barat, ia berusia 98 tahun versi ijazah negara. Namun pihak keluarga menyebut ia sesungguhnya dilahirkan tahun 1923, artinya usia aslinya sudah 101 tahun.

KH M. Arief Mahya merupakan Anggota veteran Republik Indonesia. Dikutip dari situs blog paratokohlampung, ia dahulu bersekolah di kampung pada masa pemerintahan Belanda Polk Scholl (1933—1935).

Arief kemudian melanjutkan pendidikannya di madrasah selama dua tahun lalu ke Standard School, yang merupakan sekolah rintisan Muhammadiyah pada 1937—1938. Pendidikan tingkat selanjutnya adalah Wustha Zua'ma (1939—1940) dan Wustha Mu'allimien (1940—1941). Sekolahnya terhenti karena terjadi Perang Dunia II.

Selepas sekolah lanjutan, Arief mulai bekerja dengan memanfaatkan ilmunya dengan membuka madrasah di Talangparis, Lampung Barat bersama rekannya.

Namun, sekolah itu hanya bertahan 1 tahun karena dibubarkan Jepang. Pada 1943, dia kembali tekun ke dunia pendidikan sebagai guru di Sekolah Rakyat milik Muhammadiyah di Karangagung, Way Tenon. Namun sekolah itu hanya bertahan 6 enam bulan karena dilarang oleh Pemerintah Jepang.

Menghindari kerja paksa atau Badan Pembantu Perang (BPP), Arief memilih berdagang sehingga membuatnya selalu berpindah tempat. Akhirnya ia menyusul orangtuanya yang telah mengungsi ke Metro, tepatnya di Desa Hadimulyo.

Ia lalu menjadi kepala sekolah di HIS Muhammadiyah pada Februari 1945 sampai Desember 1948. Sekolah itu lagi-lagi mendapat larangan dari pemerintahan Jepang, yang hanya mengizinkan untuk mengajarkan pendidikan agama Islam.

Jepang kalah perang dunia II, Belanda kembali menguasai Nusantara. Saat itu Belanda menduduki sebagian Provinsi Lampung dan perguruan Islam tempat Arief mengajar ditutup.

Arief lalu bergabung pada Partai Masyumi dan menjabat sebagai kepala staf Hizbullah untuk membantu perjuangan bangsa. Ketika itu Pemerintah Pusat meminta seluruh laskar perjuangan untuk masuk ke Tentara Negara Indonesia (TNI) karena beberapa wilayah telah dikuasai Belanda, termasuk Lampung Tengah, tempat dia berada.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Tampan Fernando
Tag :

KH M. Arief Mahya

tokoh pejuang Lampung

tokoh pendidikan Kyai NU

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya