Berkah Bulan Suro, Kuda Lumping Mbah Pinggir di Pringsewu Laris Manis
Yuda Haryono
Pringsewu
RILISID, Pringsewu — Melestarikan budaya dari nenek moyang yakni kesenian Kuda Lumping (Jaranan), telah lama ditekuni Supriyanto (50) atau biasa dipanggil Mbah Pinggir sejak tahun 1980.
Hingga saat ini, kesenian kuda lumping yang diberi nama Ageng Pangestu masih terus dikenal oleh masyarakat khususnya yang ada di Kabupaten Pringsewu.
Mulai untuk mengisi acara hajatan, syukuran, bahkan acara khusus seperti di Bulan Suro (Muhharam) yang identik dengan masyarakat suku Jawa, masih terus dilakukan.
Mbah Pinggir saat sela-sela pentas di Kelurahan Pajarisuk mengatakan, kesenian kuda lumping miliknya hampir penuh jadwal pentas di bulan Suro seperti sekarang ini
“Memang setiap bulan pasti ada saja yang pesan buat pentas, terlebih di bulan Suro ini. Dalam sebulan bisa sampai 7 kali pentas dibeberapa tempat,” kata Mbah Pinggir, Minggu (28/7/2024).
Untuk biaya yang diperlukan untuk menyewa kesenian Kuda Lumping Ageng Pangestu, Mbah Pinggir mematok harga berkisar antara Rp3-4,5 juta sekali pentas.
Biaya tersebut digunakan untuk membayar pemain gamelan, anak wayang (Jaranan) dan pawang pemanggil roh halus.
Selain itu juga buat sesajian yang perlu disiapkan diantaranya bubur merah putih, air kembang, beras kuning dan telur ayam kampung, ayam kampung panggang dan ayam hidup, serta berbagai jenis minuman pahit dan manis, dan juga kelapa utuh.
Mbah Pinggir juga menyiapkan ritual khusus sebelum pentas, salah satunya tirakat agar diberikan kelancaran saat pentas.
Ia juga tak lupa meminta izin untuk menyembuhkan anak wayang yang sedang dirasuki roh halus.
Pringsewu
seni kuda lumping
kebanjiran job
di bulan suro
mbah pinggir
kelurahan fajarisuk
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
