Musim Politik, Ekonom Suarakan Ini untuk Capres dan Cawapres 2019

Nailin In Saroh

Nailin In Saroh

Jakarta

28 Maret 2018 21:41 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILISID, Jakarta — Pembahasan mengenai pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden semakin hangat diperbincangkan publik. Baik politisi, masyarakat, pengamat bahkan ekonom turut bersuara dan memprediksi nama-nama hingga kriteria bakal paslon yang maju dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Ekonom senior yang juga mantan menteri era orde baru, Fuad Bawazier menyebutkan, kriteria utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah jujur. Pemimpin, harus berterus terang dengan kondisi yang tengah dialami negara kepada masyarakat serta mau menerima kritikan.

"Jujur dengan keadaan yang ada. Sekarang ada kritik, tapi membantah. Padahal, masyarakat sudah bisa menyimpulkan sendiri dengan realita," ujar Fuad dalam diskusi Capres Cawapres di Mata Ekonom di kawasan Hayam Wuruk, Glodok, Jakarta Barat, Rabu (28/3/2018).

Selain jujur sebagai ciri utama, Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, seorang pemimpin baik capres khususnya cawapres, harus mengetahui masalah perekonomian Indonesia secara mendasar.

"Tahu permasalahan secara mendasar. Misalnya, pertumbuhan stagnan 5,0 persen, kita butuh 8,0 persen agar lepas dari kategori negara kelas menengah. Itu pemimpin harus paham masalah, jangan asal target," jelasnya.

Kedua, pemimpin harus mempunyai visi yang jelas bagaimana menyelesaikan masalah. "Dia know how to," katanya.

Sepakat dengan Fuad, Faisal menilai calon pemimpin harus terbuka terhadap kritik. "Karena, kalau belum apa-apa sudah menutup diri tehadap kondisi utang, itu sama sekali menutup alternatif penyelesaian masalah yang mungkin lebih baik," ungkapnya.

Senada dengan keduanya, Ekonom dari  Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, sifat jujur dari seorang pemimpin akan melahirkan dukungan.

"Pemimpin itu selain bahasa langit nya tabligh, amanah, siddiq dan fathonah, implementasi di tata kenegaraannya ya harus jujur menyampaikan kondisi yang ada. Karena, kalau jujur dampaknya bukan hanya tidak bohong tapi solutif dan banyak dukungan," tutur Enny.

Kedua, konsisten. Setiap kebijakan apapun, kata Enny, harus konsisten bahwa orientasinya untuk kepentingan masyarakat. "Jadi tidak akan ditanya lagi masyarakat yang mana, tapi masyarakat for all. Konsisten ini harus konkret," sambung dia.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya