Takjil Mengandung Boraks, BPOM Dinilai Enggak Maksimal

Nailin In Saroh

Nailin In Saroh

Jakarta

31 Mei 2018 01:12 WIB
Daerah | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

RILISID, Jakarta — Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Kepulauan Riau menemukan 13 kudapan pembuka puasa yang diduga mengandung boraks dan rhodamin di sejumlah bazar-bazar Ramadhan.

Kandungan tersebut didapat pada Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun. Selain itu, Komisi IX DPR juga mencurigai hal serupa di Kota Palembang.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay menilai, BPOM harus memaksimalkan fungsi penindakan dalam rangka perlindungan konsumen. Supaya, kondisi semacam ini tak terulang lagi.

"Sebetulnya BPOM, diberikan kewenangan penindakan mestinya dimanfaatkan," ujar Saleh di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

"Saya yakin di luar yang diketemukan itu masih banyak. Ini kebetulan saja," tambahnya.

Saleh mengungkapkan, sidak yang dilakukan BPOM terkadang masih berdasarkan laporan masyarakat, bukan program berjangka.

"Kadang pengawasan yang dilakukan bukan karena menargetkan sesuatu. Kan, mestinya ada terencana," ungkap dia.

Selain tanpa rencana, ia mengakui, BPOM kekurangan SDM. Padahal, DPR menganggarkan dana untuk membentuk 40 BPOM kabupaten/kota di daerah yang rawan masalah pangan, kosmetik dan obat-obatan.

"Memang enggak punya perwakilan kabupaten/kota, masih provinsi saja. Karena, keterbatasan SDM yang tidak bisa menjangkau semua," ujar dia.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya