Penjual Kembang Api 'Menang' Banyak di Lebaran Kedua
Anonymous
Pri paru baya itu mengaku sudah berjalan sejak matahari terbit, hingga pukul 18.00 WIB saat matahari terbenam. Biasanya, jumlah peziarah akan mencapai puncaknya pada sore hari.
TPU Karet Bivak dikenal sebagai salah satu lokasi pemakaman di pusat kota Jakarta. Tidak heran, banyak tokoh-tokoh ternama dari mulai pejabat negara hingga aktris dan aktor terkemuka yang dimakamkan di TPU terluas kedua di Jakarta itu.
Sebut saja pahlawan nasional seperti Mohammad Hoesni Thamrin dan Fatmawati yang dimakamkan di TPU tersebut. Kemudian juga pegiat perfilman nasional Usmar Ismail, hingga penceramah kondang Ustadz Jeffry Al Buchori.
Namun, menurut pedagang kembang lainnya, kenaikan keuntungan memang terjadi, tapi tidak signifkan. Selain itu, jumlah peziarah yang datang pun tidak seramai Lebaran tahun lalu.
Edison, pedagang kembang yang sudah berjualan sejak 2012, mengatakan jumlah peziarah di hari pertama Lebaran tahun ini tidak sebanyak pada hari pertama Lebaran tahun lalu. Dia memperkirakan hal itu disebabkan periode libur lebaran tahun ini yang jauh lebih panjang dibandingkan tahun lalu, sehingga warga DKI Jakarta banyak yang berlibur ke luar kota.
"Kemarin sih untungnya Rp300 ribu, tidak lebih besar dibandingkan tahun lalu," ujarnya.
Selain itu, kata Edison, keuangan yang dia dapat juga tidak maksimal karena tidak bisa menaikkan harga kembang. Padahal pemasok kembang di Rawa Belong, sudah menaikkan harga kembang. Jika dia menaikkan harga kembang, peziarah biasanya akan menawar harga atau beralih ke pedagang lainnya.
"Memang jumlah peziarah meningkat, yang datang juga orang-orang kaya, mobilnya mewah, tapi mereka juga nawar harganya rendah. Ya saya untungnya segitu segitu aja," ujar Edison.
Satu paket kembang dijual Edison sebesar Rp5.000.
"Tapi tetap saja ditawar oleh peziarah, Rp10 ribu jadi tiga kresek (paket), ya gimana. Padahal kami belinya dari pemasok dengan harga yang sudah naik," katanya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
