Lahan Kering Bukan Lagi Hambatan Tanam 3 Kali Setahun
Anonymous
Seruyan
RILISID, Seruyan — Petani di Desa Pematang Limau, Kecamatan Seruyan Hilir, Seruyan, Kalimantan Tengah, kini mulai semringah karena bisa tanam tiga kali dalam setahun. Sebelumnya, hanya satu kali lantaran budi daya dilakukan di lahan kering.
Hal tersebut terjadi, pascakegiatan penerapan inovasi peningkatan indeks pertanaman (IP) padi di lahan kering dan tadah hujan. Kegiatan dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalteng.
Penanggung Jawab (Pj) kegiatan, Dr. Susilawati, menerangkan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menggenjot IP di Kalteng. Di antaranya, analisis tanah dan menyusun rekomendasi pemupukan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan hara tanah dan tanaman.
"Ternyata dapat dipenuhi petani secara langsung, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia (in situ) maupun dengan memilih varietas yang hemat input anorganik. Sehingga, pertanian padi yang dihasilkan selain lebih ramah lingkungan, juga hemat dan lebih efisien," ujarnya.
Inovasi teknologi yang diperkenalkan BPTP Kalteng, untuk menekan faktor pembatas biofisik lahan. Misalnya, konservasi tanah dan air, pengelolaan kesuburan tanah melalui pemberian kapur, pemupukan dan penambahan bahan organik.
Ada juga menekan faktor pembatas produksi, dengan perbaikan cara budi daya melalui teknologi pengelolaan terpadu tanaman (PTT) padi lahan kering, pemilihan varietas unggul baru (VUB) berumur pendek dan tahan kekeringan, serta teknologi pemupukan. Inovasi tersebut, dipadukan dengan teknologi penyediaan sumber daya air, seperti embung, long storange, dam parit, pompanisasi, dan sejenisnya.
Susilawati menambahkan, kegiatan peningkatan IP padi di lahan kering dan tadah hujan Kalteng memiliki beberapa tujuan. Di antaranya, menyediakan teknologi tampung dan panen air di lahan kering dan tadah hujan, meningkatkan luas pertanaman, serta menggenjot produksi dan produktivitas.
Sebagai informasi, lahan kering di Kalteng mencapai 7,7 juta hektare. Sekitar 564.798 hektare di antaranya, dimanfaatkan petani dengan menanam padi lokal, sebagian besar berupa tegalan atau tadah hujan.
Dari jumlah itu, 200.300 hektare berupa ladang yang pengelolaan lahannya masih tradisional, dengan menanam padi lokal berumur panjang sekali setahun. Alhasil, produktivitas rendah sekitar 1-1,5 ton per hektare.
Lahan kering di Kalteng juga dicirikan ketersedian air yang terbatas, karena pengaruh perubahan iklim. Sehingga, kekeringan panjang akan berdampak pada pertumbuhan tanaman.
Kondisi ini dirasakan petani di Desa Pematang sebelumnya. Petani setempat masih menanam padi sekali setahun dengan pola tradisional, baik cara tanam, penggunaan varietas, maupun rekomendasi pemupukan yang dilakukan. Dengan begitu, lahan menganggur sampai musim tanam II (Oktober-Maret) tiba.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
