Komunitas Kretek: Hari Tanpa Rokok Sedunia adalah Penistaan
Budi Prasetyo
Jakarta
RILISID, Jakarta — Ketua Komunitas Kretek, Aditia Purnomo, menjelaskan alasan utama dari berbagai pelarangan merokok kesehatan. WHO mengklaim bahwa tembakau telah membunuh hampir enam juta orang setiap tahun.
Di mana lebih dari 600 ribu perokok pasif menjadi korban akibat menghirup asap dari para perokok aktif. Dan, kemudian menyatakan bahwa tembakau telah menjadi penyebab utama kematian di dunia.
"Selalu saja kesehatan dijadikan alasan untuk membunuh industri tembakau nasional," kata dia dalam aksinya di depan Kebun Binatang Surabaya pada Senin (28/5/2018).
Padahal, sudah banyak penelitian para pakar kesehatan yang tegas menyatakan bahwa tembakau bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit, dari kanker, jantung, bahkan wabah ebola yang pernah membuat geger bangsa Eropa.
Menurut Adit, kampanye anti-tembakau yang dibungkus dalam bentuk kesehatan, ternyata disponsori oleh industri-industri farmasi (asing).
Kepentingan mereka adalah menggantikan rokok dengan produk lain pengganti rokok hasil produksi dari industri farmasi. Seperti, permen karet dan koyok untuk berhenti merokok. Atau bahkan, juga membuka klinik-klinik berhenti merokok dan obat-obatnya.
Tentu semuanya tidak gratis, yang artinya hal tersebut memberikan keuntungan bagi industri farmasi yang syarat akan kepentingan penguasaan pasar dagang.
Berlandas pada hal tersebut, dalam gelaran "Tribute to Kretek" kali ini, baik Komunitas Kretek maupun KNPK ingin menegaskan bahwa HTTS adalah gerakan yang dapat merongrong kedaulatan industri hasil tembakau.
Koordinator Lapangan Aksi "Tribute to Kretek", Jibal Windiaz, menyampaikan rangkaian acaranya dengan melakukan perjalanan ribuan kilometer, dari Jakarta, Surabaya hingga Jogjakarta.
Ini berlangsung pada bulan puasa sebagai bentuk tirakatan menolak HTTS dan perlawanan terhadap stigma buruk rokok adalah pembunuh.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
