Dorong Perkebunan Sagu Sorong Selatan, Balitbangtan Gelar Bimbingan Teknis
Anonymous
Sorong Selatan
RILISID, Sorong Selatan — Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menggelar bimbingan teknis (bimtek) terkait pengembangan sagu melalui inovasi teknologi di Sorong Selatan, Papua Barat, Senin (28/5/2018). Kegiatan dilakukan untuk mendorong perkebunan sagu dan mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Apalagi, Indonesia memiliki luas areal sagu terbesar di dunia. Seluas 85 persen areal sagu, mayoritas ada di Papua dan Papua Barat. Masyarakat pesisir Papua dan Maluku pun, umumnya memanfaatkan sagu sebagai sumber karbohidrat selain beras. Sayangnya, sebagian besar lahan sagu Papua Barat berupa hutan peninggalan zaman dulu.
Bimtek bertem "Inovasi Teknologi Mendukung Pengembangan Perkebunan Sagu di Sorong Selatan" ini, digelar Balai Besar Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dan menghadirkan sejumlah pihak terkait, selain 200 petani. Di antaranya Wakil Ketua Komisi IV DPR Michael Wattimena, Sekda Sorsel Dance Yulian Flassy, Ketua DPRD Sorsel, Kabid KSPHP Puslitbang Perkebunan, Dr. Jelfina C. Alouw, Kepala BPTP Papua Barat Ir. Demas Wamaer MP, Kadis Pertanian, Kadis Ketahanan Pangan Sorsel, serta Ketua Tim Penggerak PKK.
Dalam sambutannya, Michael, menekankan pentingnya melestarikan sagu dan pengembangannya. Sebab, hingga kini masih berupa hutan peninggalan nenek moyang. Dirinya pun berharap, lembaga-lembaga riset menciptakan varietas yang produktif di lahan kering, mengingat tanaman sagu membutuhan lahan dekat perairan dan lahan di Papua Barat sebagian besar kering.
Pada kesempatan itu, Michael turut mendengarkan berbagai permasalahan yang dihadapi petani sagung Sorsel, selain memberikan bantuan berupa mesin pengolahan sagu. Bantuan menggunakan dana aspirasi.
Sementara, Jelfina selaku perwakilan Kepala Balitbangtan menerangkan, banyak inovasi teknologi yang telah dihasilkan Balitbangtan. Varietas unggul sejumlah komoditas pangan strategis dan informasi varietas sagu yang telah dilepas dengan SK Mentan, contohnya.
Mengingat pentingnya akselerasi diseminasi hasil-hasil teknologi tersebut kepada masyarakat, menjadi dasar bimtek digelar. Diyakini kegiatan juga memberdayakan perempuan melalui penciptaan produk berbasis sagu berdaya saing tinggi di pasar global, lantaran Papua dan Papua Barat merupakan daerah destinasi wisata yang terkenal di mancanegara.
Sedangkan Sekda Sorsel, menekankan pentingnya kelembagaan dan membangun pola kemitraan antara industri dan petani. Pemerintah Daerah (Pemda) Sorsel pun berterima kasih dan menyambut baik pelaksanaan bimtek. Peserta diharapkan menyerap ilmu dari para narasumber untuk pengembangan sagu.
Beberapa produk kue dan mi dari sagu, sudah dihasilkan kelompok tani dan kelompok wanita, selain produk tradisional lain seperti papeda. Namun, masih ada beberapa kendala, meliputi akses jalan kebun belum memadai, kurangnya alat pengolahan sagu dan teknologi diversifikasi produk, serta pemasaran produk karena jauhnya jarak Sorsel ke Ibu Kota Kabupaten.
Kemudian, narasumber dari BPTP Papua Barat, Dr. Aser Rouw, memperkenalkan pola pengembangan bioindustri sagu. Selanjutnya perwakilan Universitas Papua, Dr. Dharma, melakukan introduksi mesin pengolahan sagu yang efisien.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
