Apa Makna Tagar #NetizenBerPancasila? Ini Kata Komunikonten
Elvi R
Depok
RILISID, Depok — Hari ini 1 Juni 2018 ada tagar #NetizenBerPancasila di media sosial utamanya di twitter. Tagar ini muncul pada Kamis, 31 Mei 2018 pukul 20:08 WIB dan naik menjadi trending topik pada Jumat, 1 Juni 2018 pukul 03.05 WIB, tagar ini turun naik bersaing dengan kalimat Selamat Hari Lahir Pancasila.
Beberapa akun awal yang menggunakan tagar #NetizenBerpancasila diantaranya @humas_jogja (Akun resmi Bidang Humas Pemda DIY) dan @kominfodiy, kemudian diikuti beberapa akun berbasis di Yogya lainnya, selanjutnya menyebar di kalangan warganet. Apa makna tagar #NetizenBerPancasila?
Pengamat media sosial dari Institut Media Sosial dan Diplomasi (Komunikonten) menjelaskan, sejak kehadiran internet setiap orang telah menjadi media, setiap orang berpeluang menjadi produsen dan distributor konten. Tagar #NetizenBerPancasila secara umum mengajak menjadikan Pancasila sebagai filter saat kita memproduksi dan akan menyebarkan konten lewat media sosial.
"Tagar #NetizenBerPancasila punya kelebihan ketimbang tagar yang populer di tahun lalu yaitu #SayaPancasila karena sifatnya mengajak dan tidak menegasikan yang lain," ujar Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo Wibawa Satria, di Depok, Jumat (1/6/2018).
Menurutnya, warganet sebenarnya juga wartawan, pemimpin redaksi, sekaligus pemilik bagi akun media sosialnya masing-masing. Dia melihat banyak sekali postingan dari sebuah akun media sosial milik warganet yang direspon dan dikomentari jauh lebih banyak oleh warganet ketimbang sebuah berita yang diproduksi oleh media mainstream.
"Contohnya akun instagram @minang.kocak. Jadi pengaruh akun medsos bisa mengimbangi website sebuah media mainstream. Di Level duniapun akun individu lebih banyak diikuti ketimbang akun organisasi,"katanya.
Hariqo menyebut, mengamalkan Pancasila bagi warganet dapat diartikan menghormati agama dan pemeluknya. Memprioritaskan kemanusiaan, bersikap adil, menjunjung adab, menjaga persatuan, klarifikasi atau musyawarah sebelum memproduksi dan mendistribusikan konten yang diragukan kebenarannya. Serta memperjuangkan keadilan sosial untuk siapapun warga Indonesia. Ukuran produksi dan distribusi itu adalah kepentingan nasional.
Terkait masih terus ramainya hoaks, ujaran kebencian dan hal negatif lainnya di media sosial, Hariqo mengatakan, isu keamanan utamanya terkait hoaks memang paling banyak dibicarakan di medsos ketimbang dua isu lainnya yaitu kreatifitas, kolaborasi. Sebab meskipun bangsa Indonesia mempunyai kekeluargaan dan modal sosial yang kuat, namun jika terus menerus dihantam oleh hoaks, ujaran kebencian penyalahgunaan isu SARA, maka lama kelamaan akan rapuh juga.
Dia juga mengatakan, perang saudara di Timur Tengah salah satunya disebabkan lambatnya antisipasi terhadap ujaran kebencian, selain juga karena adanya sekelompok orang yang jadikan proxy oleh negara-negara besar dibalik perang tersebut. Intinya negara kuat pasti sulit dipecah belah, sedangkan negara lemah mudah diadu domba antarwarganya.
“Kita ber-NKRI bukan hanya untuk 100 tahun saja, tapi untuk selama-lamanya. Ibarat bangunan, jika kita ingin bangunan NKRI ini kokoh dari gempa, banjir, bom dan senjata nuklir. Maka salah satu caranya adalah dengan membangun fondasi persatuan yang kokoh. Upaya penggunaan tagar yang efektif dalam setiap momentum merupakan bagian dari gotongroyong besar untuk memperkokoh fondasi persatuan tersebut” kata Hariqo.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
