Tinggal Nama Besar Saja
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Sebagai seorang yang hobi main gitar, saya mengikuti perkembangan industri gitar. Baik gitar lokal maupun buatan luar negeri.
Di pasar internasional, ada dua merek gitar yang masih merajai dan belum tergeser dari singgasana, yaitu Fender dan Gibson.
Kedua merk gitar ini sangat banyak peminatnya. Alasannya beragam, mulai dari kualitas produk, desain hingga ciri khas sound yang dihasilkan.
Ketika membicarakan Gibson dan Fender kebanyakan orang akan langsung membayangkan Gibson Les Paul dan Fender Stratocaster/Telecaster.
Gitar Gibson biasanya memiliki tone yang lebih tebal dan low. Sementara Fender lebih bright dengan treble lebih kuat yang khas.
Tapi dalam beberapa tahun terakhir, penjualan gitar dunia mengalami penurunan, termasuk Gibson. Hal itu pula yang membuat Gibson pernah bangkrut di tahun 2018 lalu.
Memang banyak sekali merek gitar baru yang hadir. Baik skala pabrikan, maupun custom handmade. Mereka hadir dengan produk berkualitas dengan harga yang lebih masuk akal.
Dengan hadirnya kompetitor yang menawarkan harga lebih terjangkau tapi kualitasnya tidak kalah, membuat pencinta gitar mulai kepincut. Sementara merek-merek besar masih merasa aman dan tidak mau bikin gebrakan baru.
Baru-baru ini saya mengikuti podcast musisi di Instagram yang membahas perkembangan gitar. Narasumber di podcast itu mengatakan Gibson saat ini sebenarnya tak lagi menjual gitar, tapi ‘gaya hidup’.
Artinya orang yang membeli Gibson bukan karena ingin mendapatkan tone gitar yang oke, tapi lebih kepada untuk validasi bahwa ‘gua orang mampu’.
Tampan Fernando
Opini
indusri gitar
nama besar
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
