Selektivitas Kunci Menakar Janji Politik di Tahun Politik
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — MELIHAT janji dalam politik menurut para ahli ada dua yang bisa diklasifikasikan, pertama janji-janji fiksi dan kedua janji-janji sesungguhnya baik yang konkret maupun janji yang abstrak.
Di tahun politik, perang janji menjadi perhiasan yang indah untuk dipertontonkan dalam akrobatiknya.
Ada yang berjanji, akan memberikan tambahan rupiah bagi pemerintah desa, ada yang berjanji akan mengratiskan jaminan sosial kesehatan.
Ada juga yang berjanji BBM gratis, gaji guru naik, tunjangan bagi ibu melahirkan, dan janji yang sama melanjutkan program-program yang sudah dilakukan pemimpin sebelumnya.
Melihat janji-janji tersebut, kita mungkin ingat nasehat orang tua, bahwa janji adalah hutang, jika tidak diwujudkan bisa jadi itu dosa.
Secara religius, menelusuri janji dan korelasinya pada dosa jika tidak ditepati 100% semua agama dan kepercayaan sepakat tentang hal tersebut. Lalu apakah para pejanji itu tidak takut dosa?
Menjadi selektif dalam menilai janji-janji politik adalah tindakan bijak yang dapat membantu memilih pemimpin yang tepat dan menjaga demokrasi rakyat.
Pemilu adalah saat krusial dalam kehidupan demokrasi dimana pemilih memiliki peran utama dalam menentukan arah masa depan negara.
Dalam konteks ini, selektivitas adalah kunci untuk menghindari manipulasi politik dan memastikan representasi negara yang sejalan dengan kehendak dan kepentingan rakyat.
Sejarah politik telah memberikan kita banyak pelajaran tentang betapa berharganya berfikir selektivitas. Terlalu sering janji-janji kampanye terdengar menarik bahkan mengharukan tetapi tidak pernah terwujud.
Selektivitas Kunci Menakar Janji Politik di Tahun Politik
Opini
Perspektif
Rifandy Ritonga
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
