Petani Singkong di Lampung Putus Harapan

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

18 Maret 2021 22:45 WIB
Perspektif | Rilis ID
Yongki Davidson, Sekum HMI MPO Cab. Bandarlampung 2021
Rilis ID
Yongki Davidson, Sekum HMI MPO Cab. Bandarlampung 2021

RILISID, — Provinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam (SDA) pertanian yang cukup besar dan sangat melimpah.

Sebut saja mulai ubi kayu, tebu, jagung, padi, kopi, lada, kakao, kelapa sawit, karet, sampai pertenakan sapi potong dan kambing.

Namun sayang kekayaan SDA itu tidak menjamin masyarakatnya sejahtera. Petani singkong misalnya, yang belakangan mengeluhkan anjloknya harga singkong hingga Rp750 per kilogram (kg).

Padahal, data statistik BPS Lampung menyebutkan provinsi ini adalah produsen singkong peringkat satu nasional mengalahkan daerah lain di Indonesia.

Pada tahun 2017, petani singkong Lampung memproduksi 5,45 juta ton. Angka ini turun pada 2018 menjadi 5,05 juta ton, dan terus merosot di 2019 yang berkisar 4,92 juta ton (data BPS).

Lantas, apakah jutaan ton produksi itu dapat menjamin kesejahteraan petani atau justru mereka makin sengsara?

Memang menurut data BPS, penurunan harga tak hanya terjadi pada singkong. Pada Oktober 2020 sampai Maret 2021, beberapa komoditas juga bernasib sama.

Mulai tanaman pangan, peternakan, perikanan, gabah, ketela pohon, dan beberapa jenis ternak ruminansia (pemamah biak), unggas, dan ikan budidaya.

Khusus singkong, permasalahan muncul dari hulu sampai hilir. Di hulu dipengaruhi oleh faktor yang ketersediaan tanah, tingkat kesuburan tanah, rendahnya mutu bibit atau bahan tanam, dan terbatasnya modal petani.

Setiap tahun sejak 2014 sampai 2019, petani singkong di Lampung kehilangan 105,083 hektare (ha) lahan untuk menanam ubi kayu.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya