Mengoptimalkan Pemanfaatan Tanaman Ubikayu untuk Pangan dan Pakan
lampung@rilis.id
Ransum berbasis biomassa ubikayu (batang singkong) tentu saja masih perlu disempurnakan dengan menambahkan produk suplemen dan aditif. Produk multi nutrien saos (MNS) yang juga hasil riset di FP Unila telah diuji untuk meningkatkan kualitas ransum berbasis biomassa ubikayu pada ternak sapi.
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa ransum berbahan sisa panen dan sisa pengolahan ubikayu yang diperkaya dengan MNS dapat meningkatkan produksi ternak sapi. Hasil riset ini mengantarkan Fakultas Pertanian Unila memperoleh Rekor MURI yang kelima dengan judul: ”Penemu Pakan Ternak Berbasis Batang Singkong” pada 10 Agustus 2020.
Dari beragam problem dan prospek yang dibahas dalam FGD dapat ditarik beberapa isu strategis terkait masa depan agribisnis ubikayu di Lampung: (a) Komoditas ubikayu sudah jelas adalah salah satu pilihan petani; (b) Saatnya didorong pengembangan teknologi tepat guna untuk mengolah ubikayu (sebagian kecil saja dari produksi) menjadi tepung mocaf;
Kemudian (c) Industri pangan (kuliner) berbasis tepung mocaf perlu difasilitasi pengembangannya dan dirancang menjadi industri kreatif yang menunjang pariwisata; (d) Perlu dikembangkan skema kerjasama partnership (skala kecil) antara produsen ubikayu dan industri pengolahan mocaf); dan (e) Seluruh biomassa sisa panen (daun dan batang ubikayu) dan sisa pengolahan hasil (kulit ubikayu dan onggok) dimanfaatkan untuk ransum ternak.
Kita bersyukur, pada pertemuan di Mahan Agung pada Rabu (24/3/2021) telah dicapai kesepakatan harga singkong di Lampung minimal Rp900 per kilogram. Pertemuan koordinasi yang diinisiasi gubernur Lampung dan dihadiri stakeholders agribisnis ubikayu terbukti sangat efektif meredam anjloknya harga ubikayu.
Agar lebih efektif dan lemanjut, capaian tersebut tentunya perlu disusul dengan kebijakan-kebijakan lain yang lebih sistematis, komprehensif, dan saling menenggang. Semoga kelak komoditas ubikayu bisa juga ikut mengantarkan Petani Lampung Berjaya. Tabik Pun Nabik-tabik!(*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
