Jurang Retorika
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Namun jika terus dibiarkan tanpa adanya pertanggungjawaban nyata, maka publik akan terbiasa dengan pandangan negatif atas budaya asli Indonesia dan kehidupan yang menjadi keseharian rakyat biasa. Bahkan lebih jauh lagi, publik bisa jadi terbiasa dengan budaya melecehkan hidup sesamanya.
Alih-alih mengeratkan hubungan antar warga negara, bibit perpecahan justru disebar di mana-mana. Maka, perlu dimunculkan kembali kesadaran ihwal etika dalam berekspresi di muka publik.
Perkembangan dan pemanfaatan teknologi digital yang kian meluas sebenarnya bisa digunakan tokoh intelektual untuk mendidik masyarakat dalam hal berbahasa, tidak hanya perlu analitis dan kritis, namun juga harus etis. Apalagi kontestasi politik akan kembali digelar tak lama lagi.
Retorika Pionir Bangsa
“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”, ungkap HOS Tjokroaminoto. Kira-kira retorika semacam itu yang harusnya diterima publik hari-hari ini. Suatu anjuran bermutu demi membangun mentalitas generasi yang akan datang.
Sebab arahan etis seperti itu lebih dibutuhkan ketimbang sekadar basa-basi retoris yang diucapkan sebagai respons atas manuver politis. Apalagi dengan maraknya geliat politik dini hari seperti yang dipertontonkan para elit belakangan ini.
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri”, ucap R.A. Kartini. Mungkin retorika itu yang harus kembali diingat oleh para tokoh negara saat ini. Sebab dalih tiada maksud buruk dari ungkapan-ungkapan negatif tersebut, tidak dapat memungkiri dampak sosial yang ditimbulkan.
Sikap kenegarawanan yang harusnya membawa ke dalam wadah persatuan, justru berbalik arah menuju jurang perpecahan. Hal itu hanya semakin membuktikan bahwa kualitas intelektual pemimpin masa kini masih jauh di bawah pejuang-pejuang kemerdekaan di masa penjajahan.
“Memimpin adalah menderita”, kata K.H. Agus Salim. Barangkali itu dapat menjadi pengingat bahwa di balik kekuasaan yang besar, turut mengiring tanggung jawab yang besar pula. Artinya para pemangku kekuasaan harus terus mawas diri baik dari segi tindakan maupun ucapan.
Kendati dapat dipahami bahwa situasi kebangsaan yang dihadapi sungguh menguras energi. Namun, segala hal yang dilakukan pasti akan terus disoroti. Maka, betapa pun pelik kondisi saat ini, tetap harus menjaga ucapan agar tidak melukai. Tugas terpenting saat ini adalah beranjak pergi dari praktik politik yang demagogis menuju sikap yang pedagogis.
Seno Kardiansyah
Dosen Sastra dan Sosial-Budaya
Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan
Universitas Teknokrat Indonesia
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
