Cerita Warga Bakung: 20 Tahun Berteman dengan Bau Air Limbah
Sulaiman
Bandarlampung
Sekarang, lanjut Dn, sampah sudah melebih tinggi tembok pembatas, khawatir jika terus bertambah pembatas bisa saja roboh.
"Kemarin pernah roboh, itu sampahnya ke rumah warga. Dibangun lagi justru tembok lebih pendek," katanya.
Dn juga menceritakan, jika hujan deras, warga sini akan diserang bau menyengat yang tidak sedap.
"20 tahun lebih kita merasakan hal ini," ujarnya sembari tertawa.
Hal serupa juga dirasakan Ibu Linda (LN), selain bau tak sedap, warga juga harus bisa memaklumi dengan banyaknya lalat disekitar rumah.
"Kami warga khawatir, jika ini terus-terus dibiarkan, akan berpengaruh dengan kesehatan, terutama anak-anak," katanya.
Menurutnya, dirinya dan beberapa warga tidak bisa menggunakan air sumur, karena sudah bau dan kotor.
"Jadi kita pakai air galon, dan PAM untuk mandi-mandi dan masak," ujarnya.
Harapan warga tidak muluk-muluk, apabila memang bisa dipindah, warga sangat bersyukur. Tetapi kalau tidak bisa dipindah, setidaknya pengelolaannya lebih baik.
"Karena mau minta kompensasi juga tidak ada, ada beras mie, dan minyak itu juga cuma sekali," katanya. (*)
TPA Bakung
Warga Bakung
air Lindi
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
