Sastra Terjemahan, Kadis Perpustakaan Lampung: Solusi Bottleneck Literasi
Gueade
Bandar Lampung
Menurut Riski, berbicara literasi hari ini, bukan hanya soal membaca dan menulis. Tetapi juga pemahaman, apresiasi, dan pemaknaan terhadap berbagai bentuk ekspresi budaya, termasuk melalui karya sastra.
Di Provinsi Lampung, masih kata dia, yang dikenal dengan keberagaman etnis dan budayanya, sastra terjemahan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat toleransi.
Juga memperkaya pemahaman lintas budaya, sekaligus menumbuhkan semangat keterbukaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, penting pula untuk mengkaji secara kritis bagaimana karya-karya terjemahan ini memengaruhi cara pandang, pola pikir, serta nilai-nilai sosial budaya lokal kita.
“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga refleksi. Kita perlu memastikan bahwa literasi, termasuk sastra terjemahan, tidak sekadar hadir sebagai konsumsi intelektual. Tetapi juga sebagai alat pembentuk karakter dan penguat jati diri bangsa," paparnya.
Terpisah, Fitri Angraini selaku Direktur Lamban Sastra, mewakili pengampu Isbedy Stiawan ZS, menjelaskan, Lamban Sastra akan komitmen memajukan dunia literasi, khususnya sastra di Lampung.
“Tentu saja komitmen kami perlu didukung semua pihak, khususnya pemerintah,” katanya.
Misalnya, saat ini sekretariat Lamban Sastra yang difasilitasi Dinas Perpusip belum ada properti seperti rak buku dan mebeler.
“Kami belum bisa memajang buku-buku sastra untuk dibaca pecinta sastra di Lampung,” katanya.
Acara itu sendiri menampilkan pembacaan puisi oleh Aiden Dinantalis pelajar kelas 2 SD Darma Bangsa Bandar Lampung dan M Akmal Sauqi (siswa SMA Al Huda Jati Agung Lampung Selatan).
Bincang Sastra
Lamban Sastra
Isbedy Stiawan ZS
lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
