Lestarikan Budaya dengan Alih Wahana Cerpen ke Bahasa Lampung
Gueade
Bandar Lampung
Arman memaparkan, cerpenis harus mengangkat tema (imajinasi) yang berat dalam tulisan. Namun ada filter yaitu dengan menguasai majas.
Mengenai penggalian ide, lanjut dia, bisa dari pengalaman pribadi, mengobrol, atau membayangkan sesuatu.
“Tema bisa soal sosial, asmara (cinta), lokalitas, dan sebagainya. Tapi, pengarang mengolah tema itu tetap menjadi segar,” ujarnya.
Sastrawan Isbedy Stiawan ZS melanjutkan, pengarang harus pintar-pintar memilih narasi atau kata.
“Karena kalau salah, kita akan terkena delik,” katanya.
Mengenai pengarang adalah pembohong yang dibenarkan, maksudnya bagaimana imajinasi penulis seolah-olah nyata.
"Padahal kisah dalam cepen itu adalah rekaan.”
Setelah peserta menulis paragraf awal dan bangunan cerpen yang akan ditulis, kemudian dibacakan dalam bahasa Lampung oleh Amelia Damayantie, guru bahasa Lampung di SMPN 26 Pesawaran dan mahasiswi FKIP Unila jurusan Bahasa Lampung.
Di akhir acara, Fitri mengingatkan peserta agar merampungkan karya cerpennya lalu dikirim ke panitia.
“Setelah kurasi dan editing oleh pemateri kemudian dialihwahanakan ke bahasa Lampung, diharapkan dapat diterbitkan menjadi buku antologi cerpen,” ujarnya.
Workshop
isbedy stiawan
bahasa Lampung
cerpen
Arman AZ
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
