Lestarikan Budaya dengan Alih Wahana Cerpen ke Bahasa Lampung

Gueade

Gueade

Bandar Lampung

24 Agustus 2024 20:39 WIB
Budaya | Rilis ID
Workshop penulisan cerpen. Foto: ist
Rilis ID
Workshop penulisan cerpen. Foto: ist

Arman memaparkan, cerpenis harus mengangkat tema (imajinasi) yang berat dalam tulisan. Namun ada filter yaitu dengan menguasai majas.

Mengenai penggalian ide, lanjut dia, bisa dari pengalaman pribadi, mengobrol, atau membayangkan sesuatu.

“Tema bisa soal sosial, asmara (cinta), lokalitas, dan sebagainya. Tapi, pengarang mengolah tema itu tetap menjadi segar,” ujarnya.

Sastrawan Isbedy Stiawan ZS melanjutkan, pengarang harus pintar-pintar memilih narasi atau kata.

“Karena kalau salah, kita akan terkena delik,” katanya.

Mengenai pengarang adalah pembohong yang dibenarkan, maksudnya bagaimana imajinasi penulis seolah-olah nyata.

"Padahal kisah dalam cepen itu adalah rekaan.”

Setelah peserta menulis paragraf awal dan bangunan cerpen yang akan ditulis, kemudian dibacakan dalam bahasa Lampung oleh Amelia Damayantie, guru bahasa Lampung di SMPN 26 Pesawaran dan mahasiswi FKIP Unila jurusan Bahasa Lampung.

Di akhir acara, Fitri mengingatkan peserta agar merampungkan karya cerpennya lalu dikirim ke panitia.

“Setelah kurasi dan editing oleh pemateri kemudian dialihwahanakan ke bahasa Lampung, diharapkan dapat diterbitkan menjadi buku antologi cerpen,” ujarnya.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

Workshop

isbedy stiawan

bahasa Lampung

cerpen

Arman AZ

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya