Sabet Rancage 2018, Ternyata Ini Motivasi sang Sastrawan
Anonymous
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Muhammad Harya Ramdhoni menyabet Rancage 2018? Ah, itu sih fakta lama. Bahkan rilislampung.id pernah menuliskan laporannya pada Januari 2018 lalu (Baca: Aplus! Sastrawan Lampung Kembali Sabet Rancage 2018).
Kalaulah Rabu (26/9/2018) lalu, sastrawan Lampung ini harus pergi ke Teater Kecil Ismail Marzuki, Jakarta, untuk menerima fisik penghargaan dan uang hadiah Rp5 juta, itu hanya masalah seremoni.
Yang paling penting sebenarnya adalah membicarakan karyanya, Semilau: Sang Rumpun Sajak, sastra Lampung. Antologi puisi inilah yang membuat karya Dhoni –sapaan akrabnya, disejajarkan dengan lima penerima penghargaan serupa dari berbagai daerah.
Lima pemenang Rancage lainnya adalah Nazarudin Azhar (Miang, sastra Sunda); Suharmono (Kakang Kawah Adi Ari-Ari, sastra Jawa); dan I Gde Agus Darma Putra (Bulan Sisi Kauh, sastra Bali).
Lalu, Panusunan Simanjuntak (Bangso na Jugul Do Hami, sastra Batak); dan Hatmiati Masy’ud (Pilanggur, sastra Banjar).
Selain mereka sebenarnya ada satu lagi penerima Hadiah Samhudi, khusus untuk bacaan anak-anak berbahasa Sunda karya Tetti Hodijah dengan judul Ulin ka Monumén.
Menurut Dhoni, ’Semilau’ merupakan nama pusaka generasi Liwa dari adat marga Liwa selama tujuh Generasi. Sejak Pangeran Indra Pati Cakra Negara pertama.
"Semilau itu sebenarnya kumpulan puisi atau sajak bahasa Lampung, ditulis sejak tahun 2000-an," kata Dhoni saat ke markas rilislampung.id, Rabu (3/10/2018).
Lulusan S1 Ilmu Pemerintahan Unila ini menerangkan, ada 69 puisi dalam bahasa Lampung yang ia kumpulkan sehingga menjadi buku Semilau.
"Tujuannya memberikan pemahaman kepada masyarakat, agar bangga dengan bahasa daerahnya, yakni bahasa Lampung," jelas Dhoni soal mengapa puisi itu ia tulis dengan bahasa Lampung.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
