Dapur Difable, Tempat Makan dengan Seluruh Karyawan Tuna Rungu
Dora Afrohah
Bandarlampung
Ada juga anggota Sadila yang belajar servis elektronik, bengkel, dan kerajinan tangan.
Nah, Dilla inilah yang mengajari Rilisid Lampung huruf alfabet dalam bahasa isyarat.
Dilla bercerita dirinya tuna rungu bukan sejak lahir. Tapi karena kecelakaan saat usianya sembilan tahun.
Dia tertabrak mobil saat mengendarai sepeda. Saat tersadar dari pingsan, Dilla tidak bisa mendengar apapun lagi.
Ada juga Chandra Wijaya, kasir sekaligus penanggung jawab di kafe itu. Karyawan senior di kafe. Badannya tak bisa dibilang kurus dengan tahi lalat di pipinya. Dia biasa dipanggil "bos" oleh rekan-rekannya.
Berbeda dengan Dilla, Chandra menyandang tuna rungu ketika masih berusia dua bulan. Saat itu ia demam tinggi. Orang tuanya tidak mampu membawanya berobat karena keterbatasan biaya.
Karyawan di kafe ini masing-masing punya peran sendiri. Dari barista, koki, kasir, sampai pelayan.
Mereka terlihat bahagia. Ada yang berswafoto atau mengobrol dengan bahasa isyarat. Kerap terdengar tawa lepas mereka.
Tak lama datang seorang laki-laki berperawakan gagah. Siapa sangka ia juga tuna rungu.
Namanya Muhammad Faris, 31 tahun. Dia bekerja sebagai tukang pijat refleksi dan laundry.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
