Nunukan Kombinasikan Kearifan Lokal dan Inovasi Balitbangtan Dukung Upsus
Elvi R
Nunukan
RILISID, Nunukan — Nunukan merupakan kawasan perbatasan yang unik di Indonesia. Keunikan bisa kita lihat dari wilayah yang berbatasan dengan luar negeri. Ada yang berada di pulau besar Kalimantan ada yang pulau kecil Sebatik. Kabupaten lain biasanya salah satu dari itu. Nunukan punya wilayah subur dataran tinggi, yang memiliki kearifan lokal luar biasa. Wilayah Krayan yang saat ini menjadi lima kecamatan, menghasilkan padi organik varietas unggul lokal yang telah dilindungi dengan Indikasi Geografis (IG). Beras ini disukai dan diekspor ke dua negara yaitu Malaysia dan Brunai Darussalam.
Selain dataran tinggi Krayan, Nunukan juga punya dataran rendah berupa pulau kecil yang terbelah menjadi dua pemilik yaitu Indonesia di bagian selatan dan Malaysia di utara. Pulau ini unik karena masyarakat kedua negara biasa bersama dan bersahabat. Tidak terbayangkan kalau mereka warga negara yang berbeda. Barangkali hanya di sini, satu rumah bisa berada di dua negara. Atau kita bisa berpijak dengan kaki kiri dan kaki kanan di negara berbeda.
Beberapa hari ini dan yang akan datang Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (PKP) Kabupaten Nunukan Cholid Mohammad, SP sibuk untuk panen demplot Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari 39 dan Inpari 41, serta Inpago 8. Pembuatan demplot tentu dimaksudkan agar petani dapat melihat sendiri VUB yang memiliki potensi produktivitas tinggi. Kegiatan ini merupakan upaya mendukung program pemerintah pusat upaya khusus (Upsus) yang disinergikan dengan program pemerintah Kabupaten Nunukan. Dalam melaksanakan tugasnya, peranan penyuluh dan BPP sangat penting.
Hasil ubinan di sawah Kampung Telang Binalawan Kecamatan Sebatik Barat, dengan menggunakan pupuk NPK, 250 kilogram per hektare menggunakan VUB Inpari 39 diperoleh produktivitas 7 ton per hektare. Kegiatan dilakukan bersama Kepala BPP, para penyuluh dan kelompok tani. Hasil ini sangat menggembirakan dan memberi semangat untuk terus meningkatkan produksi baik melaui peningkatan produktivitas maupun luas tanam (LTT). Sementara panen di desa Seberang, Sebatik Utara menggunakan Inpari 41 diperoleh produktivitas 5.2 ton per hektare. Menurut Cholid, tanggal 25 Agustus nanti juga akan dipanen Inpago 8. Adopsi VUB padi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas.
Pengembangan padi di Sebatik, Nunukan dan Kecamatan di daratan yang berada di dataran rendah dititik beratkan pada peningkatan produktivitas dengan menerapkan berbagai inovasi secara terpadu. Hal ini berbeda dengan dataran tinggi Krayan yang telah eksis dengan menanam varietas unggul lokal Adan. Penerapan kearifan lokal VUL dan pertanian organik dapat mengatasi problem keterbatasan saprodi sekaligus menghasilkan beras khusus dari varietas unggul lokal yang menerapkan pertanian organik. Cara ini terbukti lebih menguntungkan dan berkelanjutan lebih-lebih akses pasar ekspor yang mudah karena telah terbentuk lama secara tradisional. Sinergi program pemerintah daerah dan pusat ini sangat baik. Karena itu, tidak heran bila Krayan memiliki ketahan pangan yang kuat sekaligus mampu ekspor. Inilah salah satu bentuk sistem pertanian yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
