DPR Kritisi 'Monopoli' BUMN Gaya Menteri Rini

Tio Pirnando

Tio Pirnando

Jakarta

30 Maret 2018 18:10 WIB
Bisnis | Rilis ID
Proyek LRT salah satu pembangunan infrastruktur yang dikerjakan BUMN karya. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
Rilis ID
Proyek LRT salah satu pembangunan infrastruktur yang dikerjakan BUMN karya. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

Utang empat BUMN kontruksi terbesar di bursa efek-- Wijaya Karya, Waskita Karya, PT Adhi Karya, dan Pembangunan Perumahan—sudah mencapai Rp156,99 triliun pada 2017. Naik 63,14 persen dari 2016 yang besarnya Rp96,23 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) BUMN karya kini 2,99 kali, tertinggi sejak 2014.

Salamuddin menduga, lonjakan utang BUMN akan menghilangkan kesempatan mereka mengabdi pada kepentingan rakyat dan negara. “Mereka akan sibuk mengurusi naiknya utang dan mengambil proyek apa saja, menaikan harga, demi membayar utang,” katanya. 

Padahal, kinerja empat BUMN Karya di lantai bursa juga melempem. Selama Maret 2018, nilai saham BUMN karya jatuh 15,05 persen. Sepanjang 2017, harga saham BUMN merosot rata-rata 13,70 persen.
    

Menampilkan halaman 2 dari 2
Prev

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya